Persidangan Ekstradisi Julian Assange

Saya percaya persidangan Julian Asangge adalah salah satu momen paling penting dalam sejarah modern. Ini akan mendefiniskan ulang relasi jurnalisme dengan negara (adidaya). Hakim Vanessa Baraitser pada tanggal 4 Januari mendatang diperkirakan akan memutuskan untuk mengijinkan ekstardisi Assange dari tanah UK ke AS, tanah yang dulu adalah salah satu koloni kerajaan. Serangan, ancaman dan persekusi pada wartawan dan penggiat jurnalisme bukan hal baru. Berbagai pemerintah termasuk Indonesia memiliki catatan hitam represi terhadap jurnalis. [Read More]

Aksi Masa, Disinformasi dan Polarisasi

Indonesia di tengah krisis politik. Dipermukaan peristiwa yang terjadi adalah Prabowo-Sandi, salah satu konstestan Presiden kalah dan tidak menerima hasil keputusan pemilu. Pengabaian polling di akhir kampanye, menolak Exit Poll dan Live Count KPU hingga deklarasi prematur sebagai Presiden. Semua langkah-langkah yang diambil Prabowo tidak sulit untuk menebak bahwa pengumuman KPU akan diwarnai aksi massa dan kekerasan. Sebuah plot yang lebih sederhana dibandingkan Game of Thrones. Saya tidak terlalu percaya atau tepatnya puas dengan liputan media mengenai politik Indonesia. [Read More]

Pengkhidmatan Konstitusional

Pemuda Jamaah Muslim Ahmadiyah mendapat julukan khaddim, yang berarti pelayan. Nilai kesalehan tertinggi secara zahir terletak pada keseriusan dan dedikasi dia dalam melayani tujuan-tujuan mulia yang ia emban. Namun apakah tujuan-tujuan dari pelayanan tersebut? Sejak memasuki usia 15 tahun seorang khaddim akan merapal janji khuddam di setiap acara dan rapat pemuda Ahmadiyah. Janji khuddam adalah mantra dan nilai yang akan menjaga aktivitasnya. Ia berbunyi: … mengorbankan jiwa raga, harta, waktu dan kehormatanku untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa. [Read More]

Sidang (eks) Gafatar

Ini adalah persidangan terhadap 3 pemimpin Millah Abraham, atau sering disebut sebagai GAFATAR. Sidang dilakukan di PN Jakarta Timur, yang terletak di ujung timur Jakarta, berbatas dengan Bekasi.

Sidang ini ada bagian dari persidangan-persidangan represi terhadap kelompok-kelompok agama minoritas di Indonesia, sebuah praktek yang berdasarkan pasal “Penodaan Agama”, dicetuskan oleh Soekarno tahun 65, digunakan beberapa kali oleh Soeharto dan mendapatkan momentum paska Reformasi 1998.

Meliput 4 November

Demonstrasi 4 November 2016 adalah sebuah fenomena, inilah saat demonstrasi paska 1998 yang mampu mengimbangi demo buruh jadebotabek. Untuk itu menarik melihat bagaimana media memberitakan “411” dan beberapa opini penting terkait. Tulisan terbaik saya rasa pada Tirto.ID yang membuat reportase mendalam tanpa terburu-buru. Dalam industri media saat ini di Indonesia (baca: Jakarta) terlambat adalah sebuah privillage. Salah satu tulisan Tirto berusaha menelusuri siapa kah kelompok yang memulai kekerasan, dan dalam penelusurannya kelompok ini sudah mulai bersikap agitasi sejak sore hari, bukan hanya di malam hari. [Read More]

Why I Fight?

Menceritakan mengapa saya terlibat di SobatKBB berarti mengulang sejarah Indonesia. Tahun 1945, orang tua kita, tepatnya beberapa kelompok republiken Jakarta yang ditantang oleh pemuda-pemuda radikal mendeklarasikan Indonesia secara sepihak untuk merdeka. Ini kemerdekaan yang prematur, konstitusi yang dipakai adalah sebuah draft yang belum selesai dan banyak diabaikan dalam praktik. Bukan berarti perdebatan dasar negara dan konstitusi tidak berkembang sebelumnya. Politik Etis Kerajaan Belanda (yang gagal) diikuti politik demokrasi representatif melahirkan diskusi soal apa itu Negara Hindia Belanda, kemudian makin dimatangkan oleh pemerintahan kolonial Jepang yang tidak ingin Indonesia kembali ke Belanda setelah mereka (pasti) kalah perang. [Read More]

Kebenaran yang Mutlak?

Ini gara-gara Gus Mus, kyai unik yang melek social media. Salah satu postingan dia, disebar oleh kawan saya di grup WhatsApp membahas soal kebenaran. Begini bunyinya: “Kebenaran kita berkemungkinan salah, kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Hanya kebenaran Tuhan yang benar-benar benar”. Sebuah pernyataan sederhana namun mendalam dan penting. Respon orang-orang terhadap pernyataan ini ternyata tidak sesederhana yang saya bayangkan. Apakah kebenaran, dan bagaimana mengukur kebenaran? Kritik terhadap pernyataan itu dilontarkan oleh teman-teman yang “gila” Quran dan Hadist, dengan mendalih bahwa sebagai muslim kebenaran harus didasarkan pada Quran dan Hadist. [Read More]

Paradox Keadilan

Dalam tafsir tradisional islam, pernikahan antar agama diperbolehkan dengan kondisi khusus. Yaitu kaum pria muslim diperbolehkan menikah dengan perempuan ahli kitab. Saya tidak akan memperpanjang siapakah yang disebut ahli kitab, saya lebih tertarik mengambil fokus lain. Katakan saya berada dalam posisi penguasa yang mempunyai wewenang untuk mempengaruhi atau menjalankan peraturan, seperti Undang-Undang. Dan saya, katakan lagi, seorang muslim yang shaleh dan adil. Mari masuk ke dalam masalah. Sebagai penguasa yang shaleh dan adil saya akan ijinkan dan menfasilitasi pria muslim yang menikah dengan perempuan non muslim (ahli kitab), dengan menfasilitasi pencatatan dan hak-hak perkawinan mereka. [Read More]

Its Science!

Meski saya mengamati dan menyenangi dunia sains jarang saya menulis secara khusus mengenai ini. Pertama karena keterbatasan pengetahuan saya untuk menjelaskan konsep sains yang njlimet dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Kedua karena kebanyakan capaian ilmu murni punya dampak berantai yang perlu ratusan tangan sampai kita nikmati. Nah kalau saya menulis sekarang pasti ada hal yang menarik. Baru-baru ini laboratoriom LIGO, bukan LEGO ya baru saja menemukan bahwa terowongan dan alat-alat yang mahal dan berjalan bertahun-tahun akhirnya berguna juga mencapai target: menemukan gelombang gravitasi! [Read More]

Rekoleksi Memori

Peristiwa 65 memang sudah lama berlalu, sebagian besar aktor baik yang dianggap pelaku mungkin tidak lagi relevan dalam kancah politik nusantara. Maka menghadirkan kembali memori lama itu mengadung pertanyaan: untuk apa? Bukanlah masa lalu tak bisa dirubah dan mengais-ngais luka lama hanya membuka koreng menganga kembali. Toh tafsir siapa yang mau dipakai? Militer, NU, Manikebu, Lekra, Pemuda Pancasila? Kalau bukan mau bilang tafsir orde baru yang tentu sudah malu-malu untuk dipakai sebagai sudut pandang. [Read More]