Aksi Masa, Disinformasi dan Polarisasi

Indonesia di tengah krisis politik. Dipermukaan peristiwa yang terjadi adalah Prabowo-Sandi, salah satu konstestan Presiden kalah dan tidak menerima hasil keputusan pemilu. Pengabaian polling di akhir kampanye, menolak Exit Poll dan Live Count KPU hingga deklarasi prematur sebagai Presiden. Semua langkah-langkah yang diambil Prabowo tidak sulit untuk menebak bahwa pengumuman KPU akan diwarnai aksi massa dan kekerasan. Sebuah plot yang lebih sederhana dibandingkan Game of Thrones.

Saya tidak terlalu percaya atau tepatnya puas dengan liputan media mengenai politik Indonesia. Dangkal, terlalu berpihak dan memainkan emosi pembaca. Belum lagi gencarnya klik bait. Ditambah grup WhatsApp sebagai medium paling luas diskusi digital warga: hoax everwhere.

Jadi hari ini saya dapat kesempatan langka. Kantor dirumahkan. Nyaris 90% pekerja mengaku bekerja dari rumah. Termasuk kantor-kantor partner. Saya tetap iseng untuk menengok kantor di SCBD yang melompong, nyaris menjelang libur idul fitri.

Sore hari, satu grup yang berisi 3 orang berdering. Intinya: Ayuk buka bersama. Biasanya aja. Yang luar biasa: Buka di Sarinah aja yuk. What? gak di BlokM aja? Enggak, di Sarinah aja mau lihat demo tolak pemilu.

Setelah berdebat tentang detail dipilihlah rencana. Kami bertiga akan bertemu di sekitar Sabang, 300 meter dari konsentrasi aksi massa di Bawaslu. Jarak dan pola pergerakan dan jalur lalu lintas dianggap paling aman. Resiko selalu ada, jadi upayakan seminimal mungkin.

Saya datang paling awal, sekira 17:30. Ojek Online berhenti di belakang sarinah dan saya berjalan kaki. Sejak awal nampak indentitas yang mencolok dari massa: Islam. Selain atribut busana muslim juga dijual slayer soal Palestina, Kaos dukung Khilafah dan deretan ambulans dari organisasi-organisasi berafiliasi Islam.

Sepanjang jalan belakang Sarinah, saya mendapatkan pemandangan yang melegakan. Manusia-manusia yang ramah, mereka bertukar sapa dan berbagi makanan. Orang-orang menggelar tikar dan menyiapkan teh manis, air mineral, makanan ringan hingga makanan berat. Selama jalan saya ditawari nasi padang, nasi telor atau nasi kotak ayam goreng. Tentu saya tolak, saya belum berjuang apa apa dalam jalan mereka.

Penjual makanan juga marak. Saya menemukan beberapa gerobak bakso dan mie ayam, namun tukang somay dengan sepeda nampaknya mendominasi pasar makanan di daerah demonstrasi.

Busana dan tungganhan bermacam-macam. Beberapa orang datang dengan baju, celana cingkrang dan rompi. Mereka nampaknya datang dari lokasi jauh. Anak muda dengan pakaian casual dan ibu-ibu dengan pakaian gaun panjang ala pengajian. Beberapa orang tetap di dalam mobil Alpard. Tante-tante dengan pakaian alammater, nona nona bergaun wangi pun nampak. Secara demografi mereka datang dari berbagai umur, jenis kelamin, pendidikan dan ekonomi yang beragam. Saya rasa yang secara tidak langsung yang menyatukan indentitas mereka sebagai Muslim sangatlah kentara.

Saya bergerak melewati Jakarta Teather menuju perempatan Bawaslu. Baik McD di samping kiri dan Starbuck di samping kanan tutup, seperti semua toko-toko besar lain. Disini juga bukti pentingnya UKM dan pengusaha kecil. Mereka yang tetap bertahan melayani konsumen ketika para pengusaha multi nasional menutup lapak.

Tedengar suara shalawat dan arahan berulang kali “Duduk, duduk, sebentar lagi kita berbuka bersama”. Beberapa orang tetap bergerak, mencari makanan, tempat atau teman yang nyaman. Dua pertokoan disamping kanan kiri dipenuhi ziarah buka bersama. Saya mendekat ke arah Bawaslu, terlihat beberapa mobil komando demonstran.

Tidak ada polisi, satpam berjaga di pintu-pintu dan teras pertokoan. Namun jelas terlihat beberapa anggota TNI baret hijau bergerak bebas diantara demonstran. “Hidup TNI, hidup TNI. TNI teman rakyat” berkumandang. Tak hanya itu beberapa warga meminta foto bersama atau Wefie dengan anggota TNI. Saya menduga TNI sengaja dipasang dengan peran “good cop” untuk mengimnbangi pasukan “bad cop” Brimob yang membuat pagar petis pada obyek vital. Anggota TNI ini tidak banyak bersuara. Mereka bergerak, membalas sapaan warga dengan senyum lalu terus bergerak.

Waktu buka/iftar tiba. Mobil Komando aksi melantunkan doa untuk makan lalu mengucapkan beberapa patah kata yang saya tak ingat jelas. Yang pasti orang-orang lalu berhenti bergerak, duduk dan makan. Beberapa orang yang masih bergerak tampak dimarahi oleh rekannya “duduk, duduk, ayo duduk dulu” wah seperti anak-anak yang dipaksa makan oleh orang tuanya.

Saya masih menunggu teman-teman. Saya minta berkumpul sebelum buka/iftar. Namun satu orang kesulitan mendapatkan Ojek Online, satu lagi dengan lugas bilang “Saya makan dulu di kantor, jam 7 ke sana”. Ahh. Saya teguk air dari botol isi ulang. Buka Puasa lalu dilanjutkan dengan sholat berjamaah, kali ini lebih kacau balau. Orang menggelar tikar di berbagai tempat lalu mengikuti imam di tengah perempatan Sarinah.

Lepas sholat maghrib, suasana sedikit berubah. Orang lebih tergesa-gesa bergerak. Kesana kemari. Mereka juga lebih berisik, bercakap dengan cepat. Mulai ada eskalasi dugaan saya.

Saya begerak ke belakang, pertama untuk minimalisasi resiko, kedua untuk bertemu dengan teman-teman di titik kumpul. Tedengar suara “duar-duar”. Masa semakin cepat bergerak, meski belum bisa dibilang panik. Belakangan saya baru bisa mengenali bahwa itu suara petasan dari tiga dugaan saya: petasan, gas air mata atau senapan peluru karet.

“Perempuan mundur, perempuan pulang” “Yang muda maju, ayo maju” “Kita gak takut mati”

Beberapa anak muda dengan pakian koko, celana kain, peci berkumpul. Mereka mengoleskan krim putih di sekitar mata. Nampaknya itu adalah pasta gigi yang dipercaya dapat membantu mengurangi efek gas air mata.

“Udah serem belum?” kata satu pemuda pada temannya.

Beberapa orang terutama dengan rombongan perempuan bergerak ke belakang. “Ayo pulang, kita udahan” “Kita udah selesai, gak ikutan” “Ayo-ayo cepet pulang”

Beberapa warga yang dikomando temannya masih ogah-ogahan bergerak. Menyusup ke sela-sela trotoar atau pertokoan disekitar Sarinah. Beberapa mengamati smartphone. Sekilat terlihat mereka membuka grup WhatsApp dan Telegram. Saya berusana mengintip jika ada yang main game macam Mobile Legends atau PUBG. Nampaknya pertarungan di depan mereka lebih menarik ketimbang game-game untuk memacu andrenalin.

Sinyal seluler timbul tenggelam, beredar berita bahwa pemerintah memblok gambar dan video pada media sosial populer: WhatsApp, Facebook dan Instagram. Entah dengan Youtube atau Telegram. Saya tak terlalu peduli, tidak ada keperluan pamer foto di status Whatsapp atau IG.

Pukul 18:45 kami akhirnya bertemu, agak ke belakang dari titik semula. Kami menemukan sebuah bangku kosong di samping hotel Ibis. Kami bertiga tertawa dan saling bertukar cerita. Maklum cukup lama tidak bertemu bertiga.

Kami lalu menyapa beberapa orang disekitar. Sasaran pertama tukang minuman “Wah dagangan gimana pak, laris gak?”

“Baru satu termos” sembari menunjukkan termos lain di dalam tas ransel. “Kalau rusuh begini susah, meski laku juga susah dapat air”

“Emang dapet air darimana?”

“Biasa dari warung-warung, tapi ini pada tutup makanya susah”

“wah jadi dimahalin dong”

“Ya segelas lima ribu”. Artinya satu gelas air panas plus kopi/minuman sachet yang berenteng-renteng ia bawa.

Korban kami berikutnya adalah seseorang yang berdiri di samping iron throne kami.

“Bapak dari mana?” “Saya dari Jogja, udah dari kemarin” “Wah nginep dong, di mana?” “Ada di kos-kosan”

Kami mencuri dengar beberapa percakapan warga. Rata-rata soal tembakan dan jangan takut. Beberapa berteriak “Pemilu curang, Tolak Pemilu curang”. Namun sesungguhnya agak sulit menangkap tuntutan yang hendak diperjuangkan mereka. Tidak ada selebaran, spandung atau poster. Tidak ada yel-yel dan orasi yang konsisten. Atribut yang mencolok adalah ikat kepala: 30% “Tolak Pemilu Curang; 30% Kalimat Tauhid dan sisanya tanpa atribut. Buat saya agak aneh ada ribuan orang berkumpul tanpa narasi, pesan dan tuntutan yang spesifik dan dibicarakan dengan lugas. Atau mungkin kami terlalu jauh dari pusat pesan.

Kami lalu bergerak, ke Sabang. Jalan yang biasanya ramai dengan makanan jalanan kini nampak sepi. Sebagian besar lapak tutup. Ada dua atau tiga warung padang dan satu warung tenda cukup ramai. Rencana kami untuk wisata kuliner di Sabang pupus sudah.

“Mau cari makan atau lihat ke depan” “Lihat aja dulu deh” “Ya udah kita belok, tembus kan ini?”

Kami bertiga menyusir lorong makanan binaan Bank Syariah Mandiri. Lapak-Lapak sebagian tutup dengan beberapa orang mengaso santai. Satu dua tetap buka meski tak terlalu menari. Kami bergerak terus ke depan menuju Jalan M.H Thamrin, belok kiri menuju Sarinah.

Tiba-tiba salah seorang massa aksi menegur teman kami perempuan “Mbak mau kemana? jangan kesana, mau rusuh” “Bahaya, jangan ke sana” “Enggak, kita mau ke jembatan” menunjuk jembatan penyeberangan orang di samping Hotel Sari Pan

Saya jelas menduga bahwa dia menegur karena khawatir teman perempuan ini terjebak krisis. Padahal dia adalah salah satu teman saya yang paling tangguh di situasi kritis. Ah lupakan soal bias gender kali ini, mari kembali pada masa aksi.

Kami naik ke Jembatan Penyebrangan. Beberapa wartawan dan fotografer nampak telah menguasai spot, dikelilingi orang-orang yang ingin menonton, macam kita. Dari atas saya bisa melihat bagaimana sebuah kelompok aksi bergerak.

Awalnya satu dua orang sebagai komando akan berbicara, menarik orang-orang di sekitarnya. Mereka dipersiapkan dengan yel yel yang memberikan semangat. Barisan dibentuk, sekira 20 orang membentuk rantai manusia diikuti 30 orang di belakang. Dengan satu komandan memimpin di depan mereka bergerak terus dengan yel-yel. Sesekali komando memerintahkan berhanti dan bergerak lagi.

“duar, duar, duar” Suara dan kilat petasan melompat-lompat. Petasan atau mercon ini ditembakkan dari masa demonstran ke barisan polisi yang membentuk pagar betis.

“Tahan, tahan. Kami tidak menyerang” “Polisi dan TNI tidak menyerang, kami hanya bertahan” “Tolong tahan tembakan petasan, kami hanya bertahan, tidak ada tembakan”

Suara dari mobil polisi terdengar sangat nyaring dan jelas.

“widiwww bagus jelas banget suaranya” “Iyalah, mahal” balas saya.

Nampaknya polisi berupaya keras untuk menurunkan eskalasi dua arah. Pertama mencegah pasukan Polisi yang berjaga untuk melakukan respon pada demonstran entar dengan pentungan atau gas air mata. Kedua kepada demonstran memastikan bawah suara-suara ledakan bukan dari pihak polisi namun dari petasan. Konten pesan ini cukup efektif, sayang iya tak sampai pada masa di belakang.

Saya cukup jelas mendengar percakapan warga:

“wah ditembakin kita” “Ada tembak-tembakan di depan, awas”

Saya tidak tahu pasti apakah disinformasi ini bergerak secara organik karena mereka (dan saya pada awalnya) tidak dapat membedakan suara petasan, gas air mata dan senapan. Namun narasi-narasi “polisi menembak” cukup sering di ulang-ulang di barisan belakang dimana speaker milik polisi dan demonstran sama-sama tidak terdengan jelas.

Turun dari JPO kami bergerak ke depan menuju Sarinah

“wah asyik nih kalau ada es kopi” “kopi kengan buka gak ya” “ada tuh disitu” “samping starbuck? berani bener”

Sayang harapan kami sia-sia. Kopi Kenangan seperti waralaba-waralaba lain tutup malam itu digantikan oleh jaringan pedangan kopi sachet dan somay sepeda.

Kami belok kiri menyusuri teras Jakarta Teather. Dari jauh sayup terdengar nyanyian.

“Eh yang benar tuh” “Masak, sih. Parah” kami terus mendekat untuk memastikan

“Bunuh, Bunuh Jokowi. Bunuh Jokowi sekarang juga”

Nyanian itu diulang-ulang oleh sekelompok 30 orang. Kami terus bergerak ke belang menuju Wahid Hasyim.

“Gimana, mau lihat atau makan” “Makan aja lah, di mana?” “Warung bu Ida aja” “Di mana tuh” “Gondangdia, eh pelayannya Mario asyik tau, ntar lo suka deh”

Jadilah kami bergerak terus ke arah timur. Seiring kami bergerak satu truk terbuka dengan speaker bergerak ke timur:

“Ayo kita pulang, ini sudah komando. Kita ikutin” “Ini jam-jam provokasi, hati-hati. Kita pulang, jangan ke sana”

Truck itu bergerak berlahan sambil terus menghimbau, kadang bercakap langsung pada orang di pinggir jalan. Pesannya jelas: “Ayo pulang, provokator mengambil alih aksi”.

Semakin dekat ke Gondangdia, beberapa ambulans melaku kencang ke timur.

“Wah ngapain tuh” “Ada yang luka kali” “Tapi gak tembakan kan, gas air mata kali” “Atau iseng aja biar dapet jalan”

Kami lalu berbincang soal cerita bagaimana mobil ambulans dipakai orang untuk menembus kemacetan. Sebegitu buruk kepercayaan kami pada norma dan social trust.

Kami tiba di warung bu Ida dan segera menyantap makanan. Startegi buruh. Empat lemper dan satu porsi somay sudah masuk perut ketika menunggu mereka di Sarinah. Sial.

Ketika makan, mobil ambulans semakin sering lewat. Kali ini tak hanya sering, mereka juga melaju dengan cepat. Hampir tiap 1-3 menit satu ambulans lewat.

“Wah kok banyak banget, ada apa ya” “Gas air mata, atau tembakan?” “Tapi dibawa kemana, ke sana kan gak ada rumah sakit”.

Setelah makan dan bergerak di bawah rel Gondangdia percakapan tadi terus berlanjut. Apa yang menyebabkan korban perlu di evakuasi, kemana?

Lagi-lagi curi dengar percakapan warga lebih menarik.

“Wah itu tadinnya dikira gas air mata” “Eh kok malah pingsan, ternyata polisi China”.

Di sini saya baru mendengar langsung narasi Polisi China digunakan untuk berhadapan dengan masa aksi. Sebelumnya saya melihat di grup WA.

Teman saya, yang mungkin duduk manis di kamar ber AC bertanya: “emang kenapa?”

Nah begini narasi Polisi China ini harus dipahami dalam kerangka sejarah Indonesia. Urutan rumus atau persamaan sebagai berikut:

China -> Komunis -> Ateis -> Kafir -> Pantas Mati.

Ditambah lagi warga merasa di belakang para demonstran berdiri dukungan para Habaib. Habaib vs Ateis. Bukan pilihan yang sulit untuk diputuskan.

Empat jam bersama dengan demonstrasi, saya lelah. Bukan karena jalan kaki, kekerasan atau umpatan. Tapi mendengar bagaimana disinformasi dicipta dan digandakan dengan cepat di lokasi yang hanya berapa ratus meter dari pusat kejadian.

Saya membayangkan bagaimana semua repertoire kekerasan ini dibungkusulang dengan disinformasi. Diulang dan dilipat-gandakan.

Sebuah mercon dirubah menjadi tembakan polisi. Gas air mata berubah menjadi narasi anti China.

Semua itu terjadi dalam radius ratusan meter hingga 2 kilometer. Bagaimana ia melipat ganda pada 1000 km, 5000 km atau dengan kecepatan WhatsApp dan media social lain.

Saya pulang dengan hati tertegun. Yang kita butuhkan ruang perjumpaan, bukan alasan

Written on May 23, 2019