<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" ><generator uri="https://jekyllrb.com/" version="3.8.5">Jekyll</generator><link href="http://firdausmubarik.com/feed.xml" rel="self" type="application/atom+xml" /><link href="http://firdausmubarik.com/" rel="alternate" type="text/html" /><updated>2019-07-08T19:13:37+00:00</updated><id>http://firdausmubarik.com/feed.xml</id><title type="html">Firdaus</title><subtitle>Bloging about Technology, Peace and Freedom</subtitle><entry><title type="html">Aksi Masa, Disinformasi dan Polarisasi</title><link href="http://firdausmubarik.com/aksi-masa-disinformasi-polarisasi/" rel="alternate" type="text/html" title="Aksi Masa, Disinformasi dan Polarisasi" /><published>2019-05-23T00:00:00+00:00</published><updated>2019-05-23T00:00:00+00:00</updated><id>http://firdausmubarik.com/aksi-masa-disinformasi-polarisasi</id><content type="html" xml:base="http://firdausmubarik.com/aksi-masa-disinformasi-polarisasi/">&lt;p&gt;Indonesia di tengah krisis politik. Dipermukaan peristiwa yang terjadi adalah Prabowo-Sandi, salah satu konstestan Presiden kalah dan tidak menerima hasil keputusan pemilu. Pengabaian polling di akhir kampanye, menolak Exit Poll dan Live Count KPU hingga deklarasi prematur sebagai Presiden. Semua langkah-langkah yang diambil Prabowo tidak sulit untuk menebak bahwa pengumuman KPU akan diwarnai aksi massa dan kekerasan. Sebuah plot yang lebih sederhana dibandingkan Game of Thrones.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya tidak terlalu percaya atau tepatnya puas dengan liputan media mengenai politik Indonesia. Dangkal, terlalu berpihak dan memainkan emosi pembaca. Belum lagi gencarnya klik bait. Ditambah grup WhatsApp sebagai medium paling luas diskusi digital warga: hoax everwhere.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jadi hari ini saya dapat kesempatan langka. Kantor dirumahkan. Nyaris 90% pekerja mengaku bekerja dari rumah. Termasuk kantor-kantor partner. Saya tetap iseng untuk menengok kantor di SCBD yang melompong, nyaris menjelang libur idul fitri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sore hari, satu grup yang berisi 3 orang berdering. Intinya: Ayuk buka bersama. Biasanya aja. Yang luar biasa: Buka di Sarinah aja yuk. What? gak di BlokM aja? Enggak, di Sarinah aja mau lihat demo tolak pemilu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah berdebat tentang detail dipilihlah rencana. Kami bertiga akan bertemu di sekitar Sabang, 300 meter dari konsentrasi aksi massa di Bawaslu. Jarak dan pola pergerakan dan jalur lalu lintas dianggap paling aman. Resiko selalu ada, jadi upayakan seminimal mungkin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya datang paling awal, sekira 17:30. Ojek Online berhenti di belakang sarinah dan saya berjalan kaki. Sejak awal nampak indentitas yang mencolok dari massa: Islam. Selain atribut busana muslim juga dijual slayer soal Palestina, Kaos dukung Khilafah dan deretan ambulans dari organisasi-organisasi berafiliasi Islam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sepanjang jalan belakang Sarinah, saya mendapatkan pemandangan yang melegakan. Manusia-manusia yang ramah, mereka bertukar sapa dan berbagi makanan. Orang-orang menggelar tikar dan menyiapkan teh manis, air mineral, makanan ringan hingga makanan berat. Selama jalan saya ditawari nasi padang, nasi telor atau nasi kotak ayam goreng. Tentu saya tolak, saya belum berjuang apa apa dalam jalan mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penjual makanan juga marak. Saya menemukan beberapa gerobak bakso dan mie ayam, namun tukang somay dengan sepeda nampaknya mendominasi pasar makanan di daerah demonstrasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Busana dan tungganhan bermacam-macam. Beberapa orang datang dengan baju, celana cingkrang dan rompi. Mereka nampaknya datang dari lokasi jauh. Anak muda dengan pakaian casual dan ibu-ibu dengan pakaian gaun panjang ala pengajian. Beberapa orang tetap di dalam mobil Alpard. Tante-tante dengan pakaian alammater, nona nona bergaun wangi pun nampak. Secara demografi mereka datang dari berbagai umur, jenis kelamin, pendidikan dan ekonomi yang beragam. Saya rasa yang secara tidak langsung yang menyatukan indentitas mereka sebagai Muslim sangatlah kentara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya bergerak melewati Jakarta Teather menuju perempatan Bawaslu. Baik McD di samping kiri dan Starbuck di samping kanan tutup, seperti semua toko-toko besar lain. Disini juga bukti pentingnya UKM dan pengusaha kecil. Mereka yang tetap bertahan melayani konsumen ketika para pengusaha multi nasional menutup lapak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tedengar suara shalawat dan arahan berulang kali “Duduk, duduk, sebentar lagi kita berbuka bersama”. Beberapa orang tetap bergerak, mencari makanan, tempat atau teman yang nyaman. Dua pertokoan disamping kanan kiri dipenuhi ziarah buka bersama. Saya mendekat ke arah Bawaslu, terlihat beberapa mobil komando demonstran.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak ada polisi, satpam berjaga di pintu-pintu dan teras pertokoan. Namun jelas terlihat beberapa anggota TNI baret hijau bergerak bebas diantara demonstran. “Hidup TNI, hidup TNI. TNI teman rakyat” berkumandang. Tak hanya itu beberapa warga meminta foto bersama atau Wefie dengan anggota TNI. Saya menduga TNI sengaja dipasang dengan peran “good cop” untuk mengimnbangi pasukan “bad cop” Brimob yang membuat pagar petis pada obyek vital. Anggota TNI ini tidak banyak bersuara. Mereka bergerak, membalas sapaan warga dengan senyum lalu terus bergerak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Waktu buka/iftar tiba. Mobil Komando aksi melantunkan doa untuk makan lalu mengucapkan beberapa patah kata yang saya tak ingat jelas. Yang pasti orang-orang lalu berhenti bergerak, duduk dan makan. Beberapa orang yang masih bergerak tampak dimarahi oleh rekannya “duduk, duduk, ayo duduk dulu” wah seperti anak-anak yang dipaksa makan oleh orang tuanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya masih menunggu teman-teman. Saya minta berkumpul sebelum buka/iftar. Namun satu orang kesulitan mendapatkan Ojek Online, satu lagi dengan lugas bilang “Saya makan dulu di kantor, jam 7 ke sana”. Ahh. Saya teguk air dari botol isi ulang. Buka Puasa lalu dilanjutkan dengan sholat berjamaah, kali ini lebih kacau balau. Orang menggelar tikar di berbagai tempat lalu mengikuti imam di tengah perempatan Sarinah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lepas sholat maghrib, suasana sedikit berubah. Orang lebih tergesa-gesa bergerak. Kesana kemari. Mereka juga lebih berisik, bercakap dengan cepat. Mulai ada eskalasi dugaan saya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya begerak ke belakang, pertama untuk minimalisasi resiko, kedua untuk bertemu dengan teman-teman di titik kumpul. Tedengar suara “duar-duar”. Masa semakin cepat bergerak, meski belum bisa dibilang panik. Belakangan saya baru bisa mengenali bahwa itu suara petasan dari tiga dugaan saya: petasan, gas air mata atau senapan peluru karet.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Perempuan mundur, perempuan pulang”
“Yang muda maju, ayo maju”
“Kita gak takut mati”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa anak muda dengan pakian koko, celana kain, peci berkumpul. Mereka mengoleskan krim putih di sekitar mata. Nampaknya itu adalah pasta gigi yang dipercaya dapat membantu mengurangi efek gas air mata.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Udah serem belum?” kata satu pemuda pada temannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa orang terutama dengan rombongan perempuan bergerak ke belakang.
“Ayo pulang, kita udahan”
“Kita udah selesai, gak ikutan”
“Ayo-ayo cepet pulang”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa warga yang dikomando temannya masih ogah-ogahan bergerak. Menyusup ke sela-sela trotoar atau pertokoan disekitar Sarinah. Beberapa mengamati smartphone. Sekilat terlihat mereka membuka grup WhatsApp dan Telegram. Saya berusana mengintip jika ada yang main game macam Mobile Legends atau PUBG. Nampaknya pertarungan di depan mereka lebih menarik ketimbang game-game untuk memacu andrenalin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sinyal seluler timbul tenggelam, beredar berita bahwa pemerintah memblok gambar dan video pada media sosial populer: WhatsApp, Facebook dan Instagram. Entah dengan Youtube atau Telegram. Saya tak terlalu peduli, tidak ada keperluan pamer foto di status Whatsapp atau IG.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pukul 18:45 kami akhirnya bertemu, agak ke belakang dari titik semula. Kami menemukan sebuah bangku kosong di samping hotel Ibis. Kami bertiga tertawa dan saling bertukar cerita. Maklum cukup lama tidak bertemu bertiga.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kami lalu menyapa beberapa orang disekitar. Sasaran pertama tukang minuman
“Wah dagangan gimana pak, laris gak?”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Baru satu termos” sembari menunjukkan termos lain di dalam tas ransel.
“Kalau rusuh begini susah, meski laku juga susah dapat air”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Emang dapet air darimana?”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Biasa dari warung-warung, tapi ini pada tutup makanya susah”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“wah jadi dimahalin dong”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Ya segelas lima ribu”. Artinya satu gelas air panas plus kopi/minuman sachet yang berenteng-renteng ia bawa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Korban kami berikutnya adalah seseorang yang berdiri di samping iron throne kami.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Bapak dari mana?”
“Saya dari Jogja, udah dari kemarin”
“Wah nginep dong, di mana?”
“Ada di kos-kosan”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kami mencuri dengar beberapa percakapan warga. Rata-rata soal tembakan dan jangan takut. Beberapa berteriak “Pemilu curang, Tolak Pemilu curang”. Namun sesungguhnya agak sulit menangkap tuntutan yang hendak diperjuangkan mereka. Tidak ada selebaran, spandung atau poster. Tidak ada yel-yel dan orasi yang konsisten. Atribut yang mencolok adalah ikat kepala: 30% “Tolak Pemilu Curang; 30% Kalimat Tauhid dan sisanya tanpa atribut. Buat saya agak aneh ada ribuan orang berkumpul tanpa narasi, pesan dan tuntutan yang spesifik dan dibicarakan dengan lugas. Atau mungkin kami terlalu jauh dari pusat pesan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kami lalu bergerak, ke Sabang. Jalan yang biasanya ramai dengan makanan jalanan kini nampak sepi. Sebagian besar lapak tutup. Ada dua atau tiga warung padang dan satu warung tenda cukup ramai. Rencana kami untuk wisata kuliner di Sabang pupus sudah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Mau cari makan atau lihat ke depan”
“Lihat aja dulu deh”
“Ya udah kita belok, tembus kan ini?”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kami bertiga menyusir lorong makanan binaan Bank Syariah Mandiri. Lapak-Lapak sebagian tutup dengan beberapa orang mengaso santai. Satu dua tetap buka meski tak terlalu menari. Kami bergerak terus ke depan menuju Jalan M.H Thamrin, belok kiri menuju Sarinah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tiba-tiba salah seorang massa aksi menegur teman kami perempuan
“Mbak mau kemana? jangan kesana, mau rusuh”
“Bahaya, jangan ke sana”
“Enggak, kita mau ke jembatan” menunjuk jembatan penyeberangan orang di samping Hotel Sari Pan&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya jelas menduga bahwa dia menegur karena khawatir teman perempuan ini terjebak krisis. Padahal dia adalah salah satu teman saya yang paling tangguh di situasi kritis. Ah lupakan soal bias gender kali ini, mari kembali pada masa aksi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kami naik ke Jembatan Penyebrangan. Beberapa wartawan dan fotografer nampak telah menguasai spot, dikelilingi orang-orang yang ingin menonton, macam kita. Dari atas saya bisa melihat bagaimana sebuah kelompok aksi bergerak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Awalnya satu dua orang sebagai komando akan berbicara, menarik orang-orang di sekitarnya. Mereka dipersiapkan dengan yel yel yang memberikan semangat. Barisan dibentuk, sekira 20 orang membentuk rantai manusia diikuti 30 orang di belakang. Dengan satu komandan memimpin di depan mereka bergerak terus dengan yel-yel. Sesekali komando memerintahkan berhanti dan bergerak lagi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“duar, duar, duar” Suara dan kilat petasan melompat-lompat. Petasan atau mercon ini ditembakkan dari masa demonstran ke barisan polisi yang membentuk pagar betis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Tahan, tahan. Kami tidak menyerang”
“Polisi dan TNI tidak menyerang, kami hanya bertahan”
“Tolong tahan tembakan petasan, kami hanya bertahan, tidak ada tembakan”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Suara dari mobil polisi terdengar sangat nyaring dan jelas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“widiwww bagus jelas banget suaranya”
“Iyalah, mahal” balas saya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nampaknya polisi berupaya keras untuk menurunkan eskalasi dua arah. Pertama mencegah pasukan Polisi yang berjaga untuk melakukan respon pada demonstran entar dengan pentungan atau gas air mata. Kedua kepada demonstran memastikan bawah suara-suara ledakan bukan dari pihak polisi namun dari petasan. Konten pesan ini cukup efektif, sayang iya tak sampai pada masa di belakang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya cukup jelas mendengar percakapan warga:&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“wah ditembakin kita”
“Ada tembak-tembakan di depan, awas”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya tidak tahu pasti apakah disinformasi ini bergerak secara organik karena mereka (dan saya pada awalnya) tidak dapat membedakan suara petasan, gas air mata dan senapan. Namun narasi-narasi “polisi menembak” cukup sering di ulang-ulang di barisan belakang dimana speaker milik polisi dan demonstran sama-sama tidak terdengan jelas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Turun dari JPO kami bergerak ke depan menuju Sarinah&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“wah asyik nih kalau ada es kopi”
“kopi kengan buka gak ya”
“ada tuh disitu”
“samping starbuck? berani bener”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sayang harapan kami sia-sia. Kopi Kenangan seperti waralaba-waralaba lain tutup malam itu digantikan oleh jaringan pedangan kopi sachet dan somay sepeda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kami belok kiri menyusuri teras Jakarta Teather. Dari jauh sayup terdengar nyanyian.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Eh yang benar tuh”
“Masak, sih. Parah” kami terus mendekat untuk memastikan&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Bunuh, Bunuh Jokowi. Bunuh Jokowi sekarang juga”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nyanian itu diulang-ulang oleh sekelompok 30 orang. Kami terus bergerak ke belang menuju Wahid Hasyim.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Gimana, mau lihat atau makan”
“Makan aja lah, di mana?”
“Warung bu Ida aja”
“Di mana tuh”
“Gondangdia, eh pelayannya Mario asyik tau, ntar lo suka deh”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jadilah kami bergerak terus ke arah timur. Seiring kami bergerak satu truk terbuka dengan speaker bergerak ke timur:&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Ayo kita pulang, ini sudah komando. Kita ikutin”
“Ini jam-jam provokasi, hati-hati. Kita pulang, jangan ke sana”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Truck itu bergerak berlahan sambil terus menghimbau, kadang bercakap langsung pada orang di pinggir jalan. Pesannya jelas: “Ayo pulang, provokator mengambil alih aksi”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semakin dekat ke Gondangdia, beberapa ambulans melaku kencang ke timur.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Wah ngapain tuh”
“Ada yang luka kali”
“Tapi gak tembakan kan, gas air mata kali”
“Atau iseng aja biar dapet jalan”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kami lalu berbincang soal cerita bagaimana mobil ambulans dipakai orang untuk menembus kemacetan. Sebegitu buruk kepercayaan kami pada norma dan social trust.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kami tiba di warung bu Ida dan segera menyantap makanan. Startegi buruh. Empat lemper dan satu porsi somay sudah masuk perut ketika menunggu mereka di Sarinah. Sial.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketika makan, mobil ambulans semakin sering lewat. Kali ini tak hanya sering, mereka juga melaju dengan cepat. Hampir tiap 1-3 menit satu ambulans lewat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Wah kok banyak banget, ada apa ya”
“Gas air mata, atau tembakan?”
“Tapi dibawa kemana, ke sana kan gak ada rumah sakit”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah makan dan bergerak di bawah rel Gondangdia percakapan tadi terus berlanjut. Apa yang menyebabkan korban perlu di evakuasi, kemana?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lagi-lagi curi dengar percakapan warga lebih menarik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Wah itu tadinnya dikira gas air mata”
“Eh kok malah pingsan, ternyata polisi China”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di sini saya baru mendengar langsung narasi Polisi China digunakan untuk berhadapan dengan masa aksi. Sebelumnya saya melihat di grup WA.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Teman saya, yang mungkin duduk manis di kamar ber AC bertanya: “emang kenapa?”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nah begini narasi Polisi China ini harus dipahami dalam kerangka sejarah Indonesia. Urutan rumus atau persamaan sebagai berikut:&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;China -&amp;gt; Komunis -&amp;gt; Ateis -&amp;gt; Kafir -&amp;gt; Pantas Mati.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ditambah lagi warga merasa di belakang para demonstran berdiri dukungan para Habaib. Habaib vs Ateis. Bukan pilihan yang sulit untuk diputuskan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Empat jam bersama dengan demonstrasi, saya lelah. Bukan karena jalan kaki, kekerasan atau umpatan. Tapi mendengar bagaimana disinformasi dicipta dan digandakan dengan cepat di lokasi yang hanya berapa ratus meter dari pusat kejadian.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya membayangkan bagaimana semua repertoire kekerasan ini dibungkusulang dengan disinformasi. Diulang dan dilipat-gandakan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebuah mercon dirubah menjadi tembakan polisi.
Gas air mata berubah menjadi narasi anti China.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semua itu terjadi dalam radius ratusan meter hingga 2 kilometer. Bagaimana ia melipat ganda pada 1000 km, 5000 km atau dengan kecepatan WhatsApp dan media social lain.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya pulang dengan hati tertegun. Yang kita butuhkan ruang perjumpaan, bukan alasan&lt;/p&gt;</content><author><name>firdausmubarik</name></author><summary type="html">Indonesia di tengah krisis politik. Dipermukaan peristiwa yang terjadi adalah Prabowo-Sandi, salah satu konstestan Presiden kalah dan tidak menerima hasil keputusan pemilu. Pengabaian polling di akhir kampanye, menolak Exit Poll dan Live Count KPU hingga deklarasi prematur sebagai Presiden. Semua langkah-langkah yang diambil Prabowo tidak sulit untuk menebak bahwa pengumuman KPU akan diwarnai aksi massa dan kekerasan. Sebuah plot yang lebih sederhana dibandingkan Game of Thrones.</summary></entry><entry><title type="html">Pengkhidmatan Konstitusional</title><link href="http://firdausmubarik.com/pengkhidmatan-konstitusional/" rel="alternate" type="text/html" title="Pengkhidmatan Konstitusional" /><published>2017-02-21T07:40:14+00:00</published><updated>2017-02-21T07:40:14+00:00</updated><id>http://firdausmubarik.com/pengkhidmatan-konstitusional</id><content type="html" xml:base="http://firdausmubarik.com/pengkhidmatan-konstitusional/">&lt;p&gt;Pemuda Jamaah Muslim Ahmadiyah mendapat julukan khaddim, yang berarti pelayan. Nilai kesalehan tertinggi secara zahir terletak pada keseriusan dan dedikasi dia dalam melayani tujuan-tujuan mulia yang ia emban.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun apakah tujuan-tujuan dari pelayanan tersebut?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejak memasuki usia 15 tahun seorang khaddim akan merapal janji khuddam di setiap acara dan rapat pemuda Ahmadiyah. Janji khuddam adalah mantra dan nilai yang akan menjaga aktivitasnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ia berbunyi: … mengorbankan jiwa raga, harta, waktu dan kehormatanku untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kata agama dan nusa bangsa diletakkan sejajar dalam tujuan atau target pengorbanan. Mereka adalah kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Pelayanan seorang pemuda Ahmadiyah harus berujung pada penegakan nilai-nilai islam yang damai dan penjagaan terhadap negara yang adil dan beradab.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masalahnya kemanakah nilai pelayanan terhadap negara saat ini? Seberapa banyak porsi dari harta, waktu dan kehormatan seorang pemuda Ahmadiyah terhadap negara mereka? Seberapa banyak khutbah, siar dan publikasi yang menarget kaum muda berbicara soal ini?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita bisa melihat bahwa sebagian besar materi ceramah-ceramah terhadap pemuda Ahmadiyah berpusat pada: pengorbanan harta (untuk organisasi), peneguhan teologi hingga aturan organisasi dan pelayanan sosial.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejauh ini cara kita menafsir soal negara adalah: lakukan kerja-kerja sosial seperti donor darah, tanggap bencana dan kepedulian terhadap kaum miskin. Karitas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seorang pemuda Ahmadiyah yang berangkat ke medan bencana alam akan disebut: berkhidmat. Sedang ketika ia datang ke dialog-dialog kebangsaan: rabtah. “Sekedar” kehumasan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Itu kenapa para pemuda Ahmadiyah akan berbondong-bondong untuk hadir dalam acara Clean The City, acara bersih-bersih di pagi tahun baru. Ia sebuah aktivitas yang cerdas. Menggabungkan kerja sosial, kampanye publik dan menegaskan di mana posisi kita dalam perayaan tahun baru.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun jangan harap menemukan ghiroh yang sama untuk menghadiri persidangan-persidangan kriminalisasi karena agama/kepercayaan. Tidak usah berpikir ketika korbannya “orang lain” bahkan mencari relawan apalagi pengunjung untuk sidang Deden Sudjana, Ahmad Yamin atau Hasan Suwandi pun setengah mati.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bisa jadi karena kita takut, atau tidak menganggap sidang-sidang itu sesuatu yang penting. kedua alasan itu sama-sama kesalahan besar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Janji khuddam dengan jelas berbicara tidak hanya harta dan waktu tapi juga kehormatan! Ketakutan-ketakutan untuk hadir persidangan adalah noda bagi janji yang kita rapal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Atau mungkin bukan soal takut tapi sidang-sidang kriminalisasi ini tidak strategis? Ini sesat berpikir. Persidangan kriminalisasi adalah bentuk penghancuran pilar-pilar konstitusi Indonesia. Pengkerdilan ini bukan hanya berarti kita membunuh solidaritas atau janji persaudaraan tapi juga mengabaikan negara dalam janji kita.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ini adalah sebuah budaya berorganisasi yang sudah berlangsung lama. Gejala-gejala yang serupa akan dapat ditemui nyaris di seluruh tempat di Indonesia. Ia tidak bisa lagi dipandang sebagai sebuah kelemahan individu semata tetapi sikap degil berjamaah terhadap tuntutan pengkhidmatan yang kita emban.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apakah benar bahwa isu-isu kebangsaan, pemulihan hak-hak konstitusional dan pembelaan pada korban adalah sebuah prioritas? Saya mengajukan dua metode praktis untuk menguji itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertama. Apakah anda berpikir bahwa sahabat-sahabat awal seperti Bilal r.a. masuk islam karena melihat ketekunan Rasulullah sholat atau berpuasa? Apakah mereka tertarik karena Muhammad mengaku-aku berbicara dengan Tuhan?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mereka hadir dan menjadi pengikut karena pembelaan sosial Muhammad SAW terhadap budak, perempuan dan anak-anak. Tiga kelompok paling rentan yang nyaris tanpa hak dalam rezim penguasa jahiliyah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Muhammad SAW berbicara dan bersikap soal mereka. Ia tidak hanya mendoakan kaum tertindas, tapi memberi sedekah, memerdekakan budak, mendampingi tagihan piutang si miskin pada tokoh mekkah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bahkan tanpa kritik verbal, itu adalah ancaman bagi stabilitas penguasa mekkah. Karenanya dia dikucilkan, diburu hingga hijrah ke Madinah. Sial bagi kaum Mekkah ia malah berkoalisi dengan kelompok lemah lain: yahudi dan kristen. Konsolidasi kaum-kaum lemah di Madinah ini yang saya rasa lebih memicu birahi perang kaum Mekkah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertanyaan kedua, apakah Ahmadiyah diterima dan disegani hingga masa Orde Lama karena kaum Muslim lain menerima hujjah kita? Dari kehadiran lewat Aceh dan Jogja hingga era Masyumi menunjukkan sikap resisten berbagai kelompok Muslim lain pada Ahmadiyah. Ahmadiyah tidak pernah diterima sebagai Islam arus utama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang membuat Ahmadiyah dihormati dan disegani adalah dua hal: pemikiran Islam modern yang dibawa lewat tafsir Al-Quran yang kontekstual dan berbahasa lokal hingga buku-buku yang memancing diskusi baru dalam pemikiran Islam Indonesia. Soekarno dengan jelas menghargai jasa “jihad pena” para Ahmadi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun kedua, dan saya rasa lebih berdampak adalah gerakan pembelaan terhadap kemerdekaan Republik Indonesia. Lewat siaran radio dan jaringan misionaris di berbagai negara, para Ahmadi dengan sistematis mendorong negara-negara ketika mereka bertugas atau tinggal untuk mengakui kemerdekaan RI. Peran ini, yang mustahil dilakukan oleh organisasi Islam lain yang menjadi nilai khusus Ahmadiyah di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berhentinya orde lama di tahun 1966 hingga sekarang memang periode cukup lama dimana kemampuan sosial kita sejara berjamaah dikerdilkan, atau jangan-jangan kita mengkerdilkan diri. Wajar jika paradigma dan kerja-kerja di atas akan diabaikan, dipinggirkan atau bahkan ditentang sebagai kegiatan yang menghamburkan sumber daya organisasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun saya yakin bahwa paradigma dan kerja-kerja itu yang saya sebut “pengkhidmatan konstitusional” adalah sebuah kewajiban dan keniscayaan yang harus kita ambil segera.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Revolusi paradigma ke arah “pengkhidmatan konstitusional” akan mendapat tantangan dari dua sisi. Di luar isu-isu pembelaan konstitusional terutama pemulihan hak warga tidaklah populer, paling banter masyakarat kita sedang dalam eforia parade keberagaman.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karena itulah sesungguhnya ia adalah pengkhidmatan yang paling penting. Karena mengambil jalan itu akan benar-benar menguji harta, waktu dan kehormatanku!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ditayangkan di RajaPena 14 Feb 2017
ref: http://rajapena.org/pengkhidmatan-konstitusional/&lt;/p&gt;</content><author><name>firdausmubarik</name></author><summary type="html">Pemuda Jamaah Muslim Ahmadiyah mendapat julukan khaddim, yang berarti pelayan. Nilai kesalehan tertinggi secara zahir terletak pada keseriusan dan dedikasi dia dalam melayani tujuan-tujuan mulia yang ia emban.</summary></entry><entry><title type="html">Sidang (eks) Gafatar</title><link href="http://firdausmubarik.com/sidang-eks-gafatar/" rel="alternate" type="text/html" title="Sidang (eks) Gafatar" /><published>2017-02-08T13:58:41+00:00</published><updated>2017-02-08T13:58:41+00:00</updated><id>http://firdausmubarik.com/sidang-eks-gafatar</id><content type="html" xml:base="http://firdausmubarik.com/sidang-eks-gafatar/">&lt;p&gt;[caption id=”attachment_441” align=”alignnone” width=”700”]&lt;img src=&quot;https://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2017/02/P2020004-1024x683.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt; [/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_442” align=”alignnone” width=”700”]&lt;img src=&quot;https://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2017/02/P2020014-1024x683.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt; [/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_443” align=”alignnone” width=”700”]&lt;img src=&quot;https://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2017/02/P2020031-1024x768.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt; [/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_444” align=”alignnone” width=”700”]&lt;img src=&quot;https://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2017/02/P2020078-1024x683.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt; [/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_445” align=”alignnone” width=”700”]&lt;img src=&quot;https://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2017/02/P2020102-1024x683.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt; [/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_446” align=”alignnone” width=”700”]&lt;img src=&quot;https://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2017/02/P2020110-1024x683.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt; [/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_447” align=”alignnone” width=”700”]&lt;img src=&quot;https://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2017/02/P2020177-1024x683.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt; [/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_448” align=”alignnone” width=”700”]&lt;img src=&quot;https://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2017/02/P2020224-1024x683.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt; [/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_449” align=”alignnone” width=”700”]&lt;img src=&quot;https://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2017/02/P2020244-1024x683.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt; [/caption]&lt;/p&gt;</content><author><name>firdausmubarik</name></author><summary type="html">[caption id=”attachment_441” align=”alignnone” width=”700”] [/caption]</summary></entry><entry><title type="html">Meliput 4 November</title><link href="http://firdausmubarik.com/meliput-4-november/" rel="alternate" type="text/html" title="Meliput 4 November" /><published>2016-11-09T05:46:02+00:00</published><updated>2016-11-09T05:46:02+00:00</updated><id>http://firdausmubarik.com/meliput-4-november</id><content type="html" xml:base="http://firdausmubarik.com/meliput-4-november/">&lt;p&gt;Demonstrasi 4 November 2016 adalah sebuah fenomena, inilah saat demonstrasi paska 1998 yang mampu mengimbangi demo buruh jadebotabek. Untuk itu menarik melihat bagaimana media memberitakan “411” dan beberapa opini penting terkait.&lt;/p&gt;

&lt;ol&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;Tulisan terbaik saya rasa pada &lt;strong&gt;Tirto.ID&lt;/strong&gt; yang membuat reportase mendalam tanpa terburu-buru. Dalam industri media saat ini di Indonesia (baca: Jakarta) terlambat adalah sebuah privillage. Salah satu tulisan Tirto berusaha &lt;a href=&quot;https://tirto.id/mencari-pemicu-kerusuhan-demo-4-november-b2BB&quot;&gt;menelusuri siapa kah kelompok yang memulai kekerasan&lt;/a&gt;, dan dalam penelusurannya kelompok ini sudah mulai bersikap agitasi sejak sore hari, bukan hanya di malam hari. Silahkan baca seri lain untuk lebih lengkap.&lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;Tulisan kedua dari &lt;strong&gt;Islam Bergerak&lt;/strong&gt; yang &lt;a href=&quot;http://islambergerak.com/2016/11/mendudukkan-kembali-prasangka-negatif-atas-gerakan-islam/&quot;&gt;menyanggah persepsi&lt;/a&gt;: bahwa gerakan islam politik gak relevan. Editorial ini menegaskan bahwa entitas Islam Politik adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa diabaikan. Pengabaian hanya akan mendorong entitas ini dibajak oleh gerakan-gerakan lain yang tidak mengakar (radikal). Super!&lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;Hampir senada namun dengan perspektif berbeda &lt;strong&gt;Yudi Latif&lt;/strong&gt; melihat ini dari kacamatama politik yang lebih luas, bahwa gerakan “411” adalah akibat adanya ketegangan dan kecemasan rakyat melihat hak-hak mereka dikebiri oleh elit negara. Ahok yang china, kaya, over confident adalah personifikasi sempurna momok rakyat yang termarjinalkan ini. Tulisan asli Yudi Latif di Kompas &lt;a href=&quot;http://www.aktual.com/yudi-latif-tak-ada-dibela/&quot;&gt;bisa dibaca disini&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;Keluar dari narasi politik, tulisan &lt;strong&gt;Desideria di Qureta&lt;/strong&gt; mengangkat soal&lt;a href=&quot;http://www.qureta.com/post/empat-alasan-penting-jokowi-harus-tinggalkan-istana&quot;&gt; manajemen keamanan buat Presiden&lt;/a&gt; sebagai salah satu alasan Jokowi ogah di Istana dan menemui demonstran. Sa jadi ingat demonstrasi saat sidang kabinet 1966 yang dikepung demonstran menyebabkan Presiden Soekarno kabur ke Istana Bogor. Lalu terjadilah Supersemar dan selanjutnya.&lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;Apalah arti politik tanpa humor? nah bacalah &lt;a href=&quot;http://www.idpelago.com/surat-orang-medan-untuk-ahok-bikin-jutaan-netizen-ngakak-terpingkal-pingkal/&quot;&gt;surat terbuka dari Medan&lt;/a&gt; sebagai bentuk mengembalikan kewarasan kita.&lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;Terakhir adalah opini singkat dari &lt;strong&gt;Buya Maarif&lt;/strong&gt; di Indonesia Lawyer Club yang menjernihkan permasalahan. You rock Buya!&lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;

&lt;p&gt;http://youtu.be/gPXSkLtAL5Y?t=6m53s&lt;/p&gt;</content><author><name>firdausmubarik</name></author><summary type="html">Demonstrasi 4 November 2016 adalah sebuah fenomena, inilah saat demonstrasi paska 1998 yang mampu mengimbangi demo buruh jadebotabek. Untuk itu menarik melihat bagaimana media memberitakan “411” dan beberapa opini penting terkait.</summary></entry><entry><title type="html">Why I Fight?</title><link href="http://firdausmubarik.com/why-i-fight/" rel="alternate" type="text/html" title="Why I Fight?" /><published>2016-09-21T03:00:19+00:00</published><updated>2016-09-21T03:00:19+00:00</updated><id>http://firdausmubarik.com/why-i-fight</id><content type="html" xml:base="http://firdausmubarik.com/why-i-fight/">&lt;p&gt;Menceritakan mengapa saya terlibat di SobatKBB berarti mengulang sejarah Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun 1945, orang tua kita, tepatnya beberapa kelompok republiken Jakarta yang ditantang oleh pemuda-pemuda radikal mendeklarasikan Indonesia secara sepihak untuk merdeka. Ini kemerdekaan yang prematur, konstitusi yang dipakai adalah sebuah draft yang belum selesai dan banyak diabaikan dalam praktik. Bukan berarti perdebatan dasar negara dan konstitusi tidak berkembang sebelumnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Politik Etis Kerajaan Belanda (yang gagal) diikuti politik demokrasi representatif melahirkan diskusi soal apa itu Negara Hindia Belanda, kemudian makin dimatangkan oleh pemerintahan kolonial Jepang yang tidak ingin Indonesia kembali ke Belanda setelah mereka (pasti) kalah perang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sidang-sidang persiapan kemerdekaan melahirkan Pancasila dan Piagam Jakarta, sebuah manifesto kemerdekaan dan bernegara. Piagam Jakarta kemudian pada detik-detik terakhir mengalami perubahan kecil signifikan yaitu penghilangan klausul mengenai [kewajiban] menjalankan syariat Islam bagi para Muslim Indonesia. Penghilangan ini adalah sebuah bentuk kompromi untuk mencegah kemungkinan Indonesia Timur, yang luas, kaya, miskin penduduk dan memiliki kantong non muslim cukup kuat enggan bergabung dengan gerakan Jakarta.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para politisi Islam melepas Piagam Jakarta, dengan berat hati mengingat dalam ingatan mereka Islam adalah nafas perjuangan melawan Belanda, dan tidak ada gerakan agama lain (baca: Kristen) yang melawan Belanda segigih mereka. Demi Indonesia yang satu, 7 kata kramat itu hilang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebagai kompensasi, kelompok Muslim mendapatkan sebuah Departemen khusus mengurus agama Islam. Ini adalah kelanjutan dari badan urusan agama Islam bentukan Jepang, lagi-lagi untuk pleasing umat dan politisi Islam. Mengingat bagi kolonis Jepang tulen, kaisar adalah agama dan loyalitas mereka!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Departemen Agama sejak awal murni mengurus urusan agama Islam seperti: Haji, pernikahan dan pegadilan agama (Islam). Departemen ini meluas menguasai urusan seperti pendidikan dari SD hingga Universitas dan menjadi badan bongsor anggaran. Hingga kini tidak satupun Menteri Agama pernah berasal dari non Muslim (bandingkan India, yang memiliki trauma lebih dalam dengan Islam pernah memiliki pemimpin Muslim)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Umat Islam Indonesia sejak awal melalui Departemen Agama mendapat privillage yang lebih tinggi dibandingkan warga lain. Secara de facto kekuatan Islam menjadi sebuah faksi politik cukup penting di jaman Soekarno hingga terbentuk 3 faksi ideal yaitu: Nasionalis, Agama (Islam) dan Komunis. Sebenarnya ada satu faksi politik lagi yang tidak tersebut: Angkatan Darat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menariknya di jaman akhir Soekarno, pemerintah membuat sebuah super body dibawah kejaksaan yaitu Bakorpakem yang fungsinya adalah mencatat, mengawasi dan memata-matai agama-agama lokal atau kepercayaan. Sikap negara ini kemudian mendorong warga yang pragmatis memilih masuk ke agama-agama “resmi” yang dilegalkan pada 1965: Islam, Kristen, Khatolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Peristiwa Gestok 1965, kudeta merayap dan naiknya Soeharto membuat stigma yang lebih kejam. Agama Lokal/ Kepercayaan =&amp;gt; Syirik =&amp;gt; Ateis =&amp;gt; PKI =&amp;gt; dapat dibunuh. Eksodus besar-besaran terjadi. Di Jawa Tengah kemudian terjadi desa-desa yang tetiba menjadi Muslim, Protestan atau Khatolik baru. Tiga agama resmi Timur Tengah ini menikmati panen pertumbuhan umat. Dilain pihak Konghucu mengubah taktik masuk ke agama Buddha secara administratif.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di jaman Soeharto terbentuk kelas masyarakat menurut agamanya. Paling rendah adalah Ateis (atau tertuduh Ateis/PKI), Kepercayaan (yang setengah Ateis) dan Konghucu (dilarang), Agama non resmi tidak dilarang (Yahudi, Bahai, Shinto), Kristen-Khatolik-Hindu-Buddha, lalu Islam di puncak kelas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selama tiga dekade politik kelas agama ini dipelihara oleh Soeharto. Jabatan-jabatan tertentu adalah mustahil atau sulit ditembus non Muslim seperti Presiden, Menteri Agama dan Panglima Militer. Meski kemudian ada masa dimana Soeharto dengan sengaja memilih militer Kristen untuk mengurangi kekuatan Islam. Dan di akhir justru membuat ICMI untuk meraih kembali simpati Islam Politik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Situasi masyarakat berlapis-lapis ini yang kemudian dianggap sebagai sebuah bentuk yang ideal, harmoni dan toleran! Sebagian besar orang akan mengingat masa Soeharto sebagai rezim yang relatif tidak bermasalah terhadap kelompok Agama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang terjadi sesugguhnya adalah bahwa sejak awal Soeharto sudah menekuk kelompok yang dianggap ancaman terbesar. Kepercayaan (desentralisasi, tidak bisa dikontrol, penentang penghacuran SDA) digembosi dengan isu Syirik dan PKI, Konghucu sebagai agama dan budaya ditekan sebagai kontrol berlebih pada etnis China. Kelompok Islam bersenjata secara umum sudah ditumpas jaman Soekarno. Islam Politik dipaksa melebur pada satu partai yang juga dikontrol ketat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang sesungguhnya terjadi adalah sebuah kontrol sosial berlapis melalui campuran agama, etnis dan politik. Kontrol ini dilakukan di awal, cendikiawan diasingkan, para (potensi) penentang sudah dibunuh masal. Hingga tersisa masyarakat Indonesia sebagai kelompok buta atau abai politik dan sosial. Mereka menikmati pertumbuhan ekonomi yang ditopang booming minyak dan utang luar negeri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kelompok yang tidak puas dengan situasi ini kemudian lebih memilih membangun jaringan bawah tanah, membangun kader-kader militan tak kasat mata. Ketika Soeharto mundur terpaksa dan prematur, kelompok-kelompok bawah tanah muncul ke permukaan dan berebut panggung. Mereka baik dari Islam Politik, Kiri, Pro Demokrasi, Liberal, New Age dan ism-ism lain sesungguhnya belum sempat saling mengenal dengan baik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perebutan panggung antar kelompok ini tidak dapat diantisipasi oleh negara. Pertama karena negara dalam masa transisi, kedua karena selama tiga dekade aparat negara tidak mengenal namanya dialog, debat dan tukar pikiran. Yang mereka ketahui hanya dua keadaan: Harmoni dan Chaos. Tidak ada ditengahnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Inilah yang terjadi paska 1998, sebuah kekacauan sosial dan budaya akibat dua atau tiga generasi yang tidak diajarkan berdialog, bertanya, dan mengolah kritik dan perbedaan dengan akal sehat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dari internal agama pun bermasalah. Kita diajarkan untuk merasa (lebih) suci dengan melihat orang lain lebih syirik dan tidak bertuhan. Agama lokal adalah kambing hitam kesucian kita untuk merasa dekat dengan Tuhan dan Surga. Ketika kontrol sosial Soeharto lenyap maka kambing hitam ini berganti-ganti: Kristen, Ahmadiyah, Lia Eden, Syiah dan akan terus menghantam kelompok kelas yang lebih bawah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Islam (Sunni) adalah yang paling diuntungkan dari politik kelas agama, sementara Ateis dan agama lokal/ kepercayaan di posisi paling rendah. Sehingga berbicara mengenai toleransi dan perdamaian yang sejati sesungguhnya kita harus membongkar lapisan demi lapisan kelas. Tidak hanya cukup membangun komunikasi antara Muslim dan Kristen, namun tatanan masyarakat kelas agama ini harus dibongkar seutuhnya hingga dasar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Untuk itu satu-satu jalan waras bagi kita adalah dengan kembali ke prinsip dasar cita-cita kemerdekaan dan konstitusi. Bahwa kemerdekaan adalah hak setiap bangsa dan umat manusia. Termasuk kemedekaan untuk beragama, percaya dan beribadah (atau tidak mau) adalah hak konstitusional setiap warga Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dan tanpa merestorasi kelas paling bawah yaitu hak-hak penganut agama lokal/kepercayaan (dan Ateis) untuk setara dan punya hak yang sama sebagai warga negara, kita sesungguhnya masih menikmati dan memupuk politik kelas agama serta segregasi yang dibangun Soekarno dan Soeharto.&lt;/p&gt;</content><author><name>firdausmubarik</name></author><summary type="html">Menceritakan mengapa saya terlibat di SobatKBB berarti mengulang sejarah Indonesia.</summary></entry><entry><title type="html">Kebenaran yang Mutlak?</title><link href="http://firdausmubarik.com/kebenaran-yang-mutlak/" rel="alternate" type="text/html" title="Kebenaran yang Mutlak?" /><published>2016-06-07T02:02:34+00:00</published><updated>2016-06-07T02:02:34+00:00</updated><id>http://firdausmubarik.com/kebenaran-yang-mutlak</id><content type="html" xml:base="http://firdausmubarik.com/kebenaran-yang-mutlak/">&lt;p&gt;Ini gara-gara Gus Mus, kyai unik yang melek social media. Salah satu postingan dia, disebar oleh kawan saya di grup WhatsApp membahas soal kebenaran. Begini bunyinya:&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Kebenaran kita berkemungkinan salah, kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Hanya kebenaran Tuhan yang benar-benar benar”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebuah pernyataan sederhana namun mendalam dan penting. Respon orang-orang terhadap pernyataan ini ternyata tidak sesederhana yang saya bayangkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apakah kebenaran, dan bagaimana mengukur kebenaran? Kritik terhadap pernyataan itu dilontarkan oleh teman-teman yang “gila” Quran dan Hadist, dengan mendalih bahwa sebagai muslim kebenaran harus didasarkan pada Quran dan Hadist.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Benarkah? Apakah berpijak Quran dan Hadist cukup untuk mendapatkan kebenaran?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya kemudian berpikir mengenai relativitas kebenaran berdasarkan waktu. Baiklah, katakan kita menerima bahwa “kebenaran” yang diterima umat Islam adalah yang mendasar pada Quran dan Hadist (atau Sunnah).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masalah pertama, jelas Al Quran dan Hadist tidak abadi. Ada jaman pra Al Quran dimana belum turun, atau belum turun secara lengkap. Bagaimanakah para penerima Islam di awal-awal bisa menerima Nabi Muhammad? Apa yang mereka baca? Apa referensi yang mereka gunakan?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tentu yang mereka lihat adalah Nabi Muhamamd langsung atau melalui para sahabatnya (ingat Quran tercetak baru resmi ada di jaman Ustman dan Hadist 2 abad kemudian). Dengan tidak adanya teks-teks yang mereka pakai apa yang mereka gunakan untuk menerima Nabi Muhammad?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pasti bukan kepatuhan, karena jika kepatuhan yang dijadikan dasar utama maka mereka akan tetap menganut agama nenek moyang mereka. Orang-orang Mekkah akan tetap menyembah berhala. Dan Abu Lahab atau mungkin Abu Sofyan yang lebih licin bisa jadi akan dikenal sebagai pemersatu Jazirah Arab saat ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya rasa satu-satunya tool yang tersedia untuk mengenal kebenaran pada saat itu adalah: AKAL. Khadijah menggunakan akal melihat &lt;em&gt;track record&lt;/em&gt; suamiya itu. Bilal menggunakan akal bahwa Islam lah yang mungkin membebaskan dia dan sesama umat budak menuju pembebasan. Abu Bakar menggunakan akal bahwa yang dibawa Rasulullah jelas lebih bisa diterima ketimbang ajaran lama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebagian umat yang masuk Islam mungkin berpikir lebih baik menerima Islam dan menjadi gelombang baru ketimbang terlibas jaman.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jadi sangat aneh jika ada muslim yang saat ini berpikir “agama itu gak perlu pakai akal terlalu banyak, nanti sesat”. Saya rasa perkataan mereka jelas merupakan penghinaan terhadap para sahabat awal Rasulullah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kedua yang gagal dipahami adalah kebenaran terutama yang berkaitan dengan ETIKA berkembang dari jaman ke jaman. Apa yang dianggap wajar dahulu kala belum tentu bisa diterima pada saat ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Misal perbudakan. Meski Nabi Muhammad berusaha membebaskan budak sebanyak-banyaknya beliau tidak melarang perbudakan secara serta-merta. Akibatnya secara hukum perbudakan adalah legal. Kalau sekarang perbudakan tetap dilakukan saya yakin nanti akan ada budak &lt;em&gt;syar’i&lt;/em&gt;. Tapi mana ada orang Islam yang waras di Indonesia berani mengatakan bahwa perbudakan adalah sebuah hal benar dan dapat diterima?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jadi akan percuma mencari-cari rujukan soal perbudakan pada ulama-ulama &lt;em&gt;syalaf&lt;/em&gt;. Karena perbudakan tidak bisa diterima dan dibenarkan pada saat ini. Titik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Baik kita masuk hal yang lebih abu-abu. Semua orang bisa menerima bahwa pemerkosaan adalah kejahatan dan pantas dihukum berat. Saking beratnya banyak warga Indonesia setuju bahwa pemerkosa anak dihukum kebiri (kimia).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertanyaannya apakah pemerkosaan itu? Apakah musti memasukkan sesuatu ke dalam lubang disebut pemerkosaan? Apa batas dari tindakan sexist, pelecehan seksual dan pemerkosaan?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada jaman Nabi, batas anak-anak dan dewasa adalah menstruasi bagi perempuan dan mimpi basah bagi lelaki. Dan Nabi Muhammad sendiri menikahi Aisyah pada umur yang masih muda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berapa banyak orang saat ini rela menikahkan anak perempuannya setelah mengalami menstruasi? Masih ada perdebatan di ranah hukum berapa batas umur kedewasaan: 16, 18 atau bahkan 21 tahun. Namun pasti menikahkan anak diumur 15 tahun bisa membuat Polisi turun tangan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jadi apakah standar itu masih bisa dipakai pada saat ini? Bisa jadi jika dilakukan sekarang ini akan masuk kategori pemerkosaan. Dan logika ini juga yang digunakan &lt;em&gt;haters&lt;/em&gt; Islam menggunakan etika masa kini untuk menilai kejadian dan kebenaran masa lalu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih yakin gak perlu Akal buat mencerna kebenaran dan agama?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Maka akan tersesatlah hai orang-orang yang tidak mau menggunakan Akal!&lt;/em&gt; :)&lt;/p&gt;</content><author><name>firdausmubarik</name></author><summary type="html">Ini gara-gara Gus Mus, kyai unik yang melek social media. Salah satu postingan dia, disebar oleh kawan saya di grup WhatsApp membahas soal kebenaran. Begini bunyinya:</summary></entry><entry><title type="html">Paradox Keadilan</title><link href="http://firdausmubarik.com/paradox-keadilan/" rel="alternate" type="text/html" title="Paradox Keadilan" /><published>2016-02-17T10:59:38+00:00</published><updated>2016-02-17T10:59:38+00:00</updated><id>http://firdausmubarik.com/paradox-keadilan</id><content type="html" xml:base="http://firdausmubarik.com/paradox-keadilan/">&lt;p&gt;Dalam tafsir tradisional islam, pernikahan antar agama diperbolehkan dengan kondisi khusus. Yaitu kaum pria muslim diperbolehkan menikah dengan perempuan ahli kitab. Saya tidak akan memperpanjang siapakah yang disebut ahli kitab, saya lebih tertarik mengambil fokus lain.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Katakan saya berada dalam posisi penguasa yang mempunyai wewenang untuk mempengaruhi atau menjalankan peraturan, seperti Undang-Undang. Dan saya, katakan lagi, seorang muslim yang shaleh dan adil. Mari masuk ke dalam masalah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebagai penguasa yang shaleh dan adil saya akan ijinkan dan menfasilitasi pria muslim yang menikah dengan perempuan non muslim (ahli kitab), dengan menfasilitasi pencatatan dan hak-hak perkawinan mereka. Bagaimana dengan perempuan muslim yang hendak menikah dengan pria ahli kitab?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika saya ijinkan, saya bisa dituduh sebagai orang yang tidak shaleh karena melanggar tafsir tradisional, namun jika saya tplak saya juga bisa dituduh tidak adil karena sebagai penguasa tidak boleh membuat peraturan yang membedakan warga negara karena latar belakang agama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Manakah yang lebih penting sebagai muslim, keshalehan atau keadilan? Buat saya tema sentral Al Quran sesungguhnya berpusat pada dua hal: Perdamaian dan Keadilan. Dan tiada perdamaian tanpa keadilan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Maka jika harus memilih dituduh tidak shaleh dengan tidak adil, saya memilih untuk tidak shaleh ketimbang harus bersikap tidak adil. Islam dengan jelas mengutuk ketidak-adilan bahwa jangan sekali-sekali kebencian pada suatu kaum membuatmu bersikap tidak adil. Dalam ajaran lain bahkan kita harus berbicara jujur dan adil meskipun itu merugikan orang tua dan keluarga kita.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Islam mengajarkan dengan jelas penghormatan luar biasa pada orang tua, khususnya ibu, tetap menolak menjadikan alasan tersebut untuk berlaku tidak adil. Keadilan, dalam Islam adalah pondasi struktur sosial yang lebih kompleks. Meninggalkan keadilan sama artinya menghancurkan tata sosial masyarakat ke dasar-dasarnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dengan logika diatas, menjadi lebih mudah sesungguhnya buat kita untuk bersikap pada isu dimana ajaran agama “dibenturkan” dengan perkembangan hak konsititusional. Apapun pandangan agama yang kita anut, setiap warga negara memiliki hak yang sama terlepas dari latar belakang agama, etnis dan gender mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam isu LGBT khususnya orientasi homoseksual, apapun tafsir agama yang kita anut, sebagai muslim saya dituntut untuk adil terhadap orang yang memilih berbeda tafsir dengan saya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Artinya hak-hak kaum homoseksualitas harus dilindungi dan setara dengan saya yang hetero. Setara dan adil disini tidak berhenti pada sikap tidak mendiskriminasi aktif mereka, ini saya anggap keadilan usang dan semu. Kita harus memastikan dan melindungi mereka punya hak dan akses dan perlakuan yang sama sebagai warga negara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jakarta, 17 Feb 2016&lt;/p&gt;</content><author><name>firdausmubarik</name></author><summary type="html">Dalam tafsir tradisional islam, pernikahan antar agama diperbolehkan dengan kondisi khusus. Yaitu kaum pria muslim diperbolehkan menikah dengan perempuan ahli kitab. Saya tidak akan memperpanjang siapakah yang disebut ahli kitab, saya lebih tertarik mengambil fokus lain.</summary></entry><entry><title type="html">Its Science!</title><link href="http://firdausmubarik.com/its-science/" rel="alternate" type="text/html" title="Its Science!" /><published>2016-02-11T20:46:35+00:00</published><updated>2016-02-11T20:46:35+00:00</updated><id>http://firdausmubarik.com/its-science</id><content type="html" xml:base="http://firdausmubarik.com/its-science/">&lt;p&gt;Meski saya mengamati dan menyenangi dunia sains jarang saya menulis secara khusus mengenai ini. Pertama karena keterbatasan pengetahuan saya untuk menjelaskan konsep sains yang njlimet dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Kedua karena kebanyakan capaian ilmu murni punya dampak berantai yang perlu ratusan tangan sampai kita nikmati.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nah kalau saya menulis sekarang pasti ada hal yang menarik. Baru-baru ini laboratoriom LIGO, bukan LEGO ya baru saja menemukan bahwa terowongan dan alat-alat yang mahal dan berjalan bertahun-tahun akhirnya berguna juga mencapai target: &lt;a href=&quot;https://physics.aps.org/articles/v9/17&quot;&gt;menemukan gelombang gravitasi&lt;/a&gt;!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jadi tuan dan puan, gravitasi, energi tarik menarik antara benda-benda yang punya massa macam bumi dan bulan ini juga digerakkan oleh gelombang seperti cahaya. tentu dengan cara kerja yang berbeda dan sedikit sama dengan cahaya sesungguhnya yang namanya gravitasi itu menjalar dari satu titik ke wilayah sekitarnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kenapa penting dan saya menulis ini? Pertama soal gelombang gravitasi ini sudah ditulis oleh Einstein seratus tahun lalu. Tepat seratus tahun lalu Einstein sudah bikin corat-coret, kerennya postulat, sampai rumus-rumus dan macam apa benda gelombang gravitasi. Dan selama 100 tahun para ilmuwan sibuk membuktikan bahwa teori Einstein ini benar adanya. Atau tidak benar adanya. Sebagian besar percaya sama Einstein, meski membuktikan tidak bisa. Macam dukun dan umatnya lah dia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kenapa? Karena jika teori Einstein salah mengenai gelombang gravitasi itu salah, akan berdampak pada runtuhnya teori-teori turunan dan bagaimana kita melihat alam semesta ini. Macam agama saja, bayangkan kalau surga itu ternyata tidak ada. Macam mana para kyai-kayi dan umatnya yang sudah investasi segala macam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;1.3 Trilyun tahun yang lalu, nun jauh di angkasa sana, dua buah lubang hitam, wujud rakus yang menelan segala macam didekatnya tanpa pernah melepaskan kembali bertemu dan saling memakan.Karena lubang hitam menelan segala tanpa memuntahkan, ia demikian berat sehingga punya energi gravitasi luar biasa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Proses dua lubang hitam ini bertemu, bergumal dan menyatu terjadi melalui sebuah tarian pusaran. Pusaran antara dua benda maha berat inilah yang membuat LIGO akhirnya bisa mengukur gelombang gravitasi yang begitu tersembunyi. Proses ini macam mendeteksi dua buah mata-mata paling rahasia yang hanya bisa dideteksi jika mereka berdua bertemu dan berdansa dalam malam bulan purnama di atas loteng kita. Ah romantis memang sains itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Satu lagi pencapaian baru-baru ini adalah laboratorium maha besar di Eropa yaitu CERN baru saja menemukan sebuah partikel maha kecil High Bosson yang dianggap partikel tuhan karena menyimpan misteri mengapa sebuah partikel atau materi memiliki massa dan yang lain tidak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada akhirnya temuan macam High Bosson dan Gelombang Gravitasi penting bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, tapi menjelaskan mengapa kita - alam semesta - berjalan seperti ini. Ini adalah pencarian WHY dan HOW, yang akan berkaitan dengan sejarah kita sebagai manusia, sebagai partikel dalam galaxy alam semesta, bagaimana ia terbentuk dan tumbuh.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;ref&lt;/p&gt;

&lt;ol&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;http://physics.aps.org/articles/v9/17&lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;http://www.wired.com/2016/02/scientists-spot-the-gravity-waves-that-flex-the-universe/&lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;http://www.smithsonianmag.com/science-nature/how-the-higgs-boson-was-found-4723520/?no-ist&lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;</content><author><name>firdausmubarik</name></author><summary type="html">Meski saya mengamati dan menyenangi dunia sains jarang saya menulis secara khusus mengenai ini. Pertama karena keterbatasan pengetahuan saya untuk menjelaskan konsep sains yang njlimet dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Kedua karena kebanyakan capaian ilmu murni punya dampak berantai yang perlu ratusan tangan sampai kita nikmati.</summary></entry><entry><title type="html">Rekoleksi Memori</title><link href="http://firdausmubarik.com/rekoleksi-memori/" rel="alternate" type="text/html" title="Rekoleksi Memori" /><published>2015-12-15T11:13:38+00:00</published><updated>2015-12-15T11:13:38+00:00</updated><id>http://firdausmubarik.com/rekoleksi-memori</id><content type="html" xml:base="http://firdausmubarik.com/rekoleksi-memori/">&lt;p&gt;Peristiwa 65 memang sudah lama berlalu, sebagian besar aktor baik yang dianggap pelaku mungkin tidak lagi relevan dalam kancah politik nusantara. Maka menghadirkan kembali memori lama itu mengadung pertanyaan: untuk apa? Bukanlah masa lalu tak bisa dirubah dan mengais-ngais luka lama hanya membuka koreng menganga kembali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Toh tafsir siapa yang mau dipakai? Militer, NU, Manikebu, Lekra, Pemuda Pancasila? Kalau bukan mau bilang tafsir orde baru yang tentu sudah malu-malu untuk dipakai sebagai sudut pandang. Dan apa manfaatnya? Buat kita, generasi muda yang punya tantangan menghadapi konvergensi media, pasar dan budaya?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya rasa yang paling mudah dilakukan adalah dengan kejujuran membuka akses terhadap memori tersebut, sembari mencoba melihat dari sudut-sudut yang berbeda. Pengalaman ini tentu personal, namun penting untuk dilakukan secara masal bukan untuk mengungkap apa yang benar-benar terjadi, tapi yang akan kita anggap benar dan salah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita bukan tidak sadar peristiwa 1965 adalah sebuah masa luar biasa yang sadis dan kejam. Tidak ada warga Indonesia waras yang bersedia untuk mengulang peristiwa tersebut, baik mereka yang menang dan yang kalah. Mungkin ada, saya belum pernah menemuinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[gallery link=”file” columns=”4” ids=”269,268,267,266,265,264,263,262,261,260,259,258”]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun selama puluhan tahun juga kita bersedia menipu diri sendiri, bukan atas apa yang terjadi tapi apa yang harus terjadi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang saya tanyakan bukan apakah ada tidak gerakan dari PKI menculik dan membunuh jenderal-jenderal. Tapi apakah mereka benar-benar ancaman bagi negara? Apakah mereka gerakan partai atau sebagian elit.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bukan sekedar apakah PKI musuh militer, tapi layakkah seorang musuh dibunuh dari belakang dan dikubur entah mati atau hidup dalam lubang yang digali sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bukan soal apakah Soeharto pemenang dari gelanggang krisis 1965 tapi layakkah ia menyalahkan komunis dan orang-orang yang tertuduh demi kekuasaan yang ia nikmati hingga anak cucunya?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seorang mahasiswa indonesia tengah belajar di Rusia ketika itu, ia kemudan bersama ribuan cendikiawan lain tak bisa pulang karena tak lagi diakui sebagai warga negara. Ia berkata kira-kira seperti ini&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Bukan apakah kita kalah atau tidak, jelas bahwa kita kalah. Tetapi mengapa bisa kalah, dan bagaimana kita belajar dari situ, lalu menerima dan hidup”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Atau yang lain:&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Waktu itu garuda mati, maka kita hidupkan garuda versi kita sendiri. Ya kita kemana-mana berusaha menghidupkan garuda, dan berhasil”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertanyaan-pertanyaan ini yang saya rasa hendak diangkat oleh seniman-seniman melalui foto, video dan pisau-pisau. Juga “prank” terhadap monumen lubang buaya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karena bukan jawaban yang menakutkan, tapi pertanyaan yang tidak berhenti.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;*Rekoleksi Memori merupakan instalasi seni dan rangakain diskusi di TIM pada bulan Desember 2015.&lt;/p&gt;</content><author><name>firdausmubarik</name></author><summary type="html">Peristiwa 65 memang sudah lama berlalu, sebagian besar aktor baik yang dianggap pelaku mungkin tidak lagi relevan dalam kancah politik nusantara. Maka menghadirkan kembali memori lama itu mengadung pertanyaan: untuk apa? Bukanlah masa lalu tak bisa dirubah dan mengais-ngais luka lama hanya membuka koreng menganga kembali.</summary></entry><entry><title type="html">USA: MRT in DC</title><link href="http://firdausmubarik.com/usa-mrt-in-dc/" rel="alternate" type="text/html" title="USA: MRT in DC" /><published>2015-12-11T09:02:21+00:00</published><updated>2015-12-11T09:02:21+00:00</updated><id>http://firdausmubarik.com/usa-mrt-in-dc</id><content type="html" xml:base="http://firdausmubarik.com/usa-mrt-in-dc/">&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290003.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290003-1024x1024.jpg&quot; alt=&quot;Saya menyukai transportasi public, terutama kereta cepat. Efisiensi yang mereka miliki untuk memindahkan orang dari satu tempat seperti melempar bola bisbol berurutan.  Salah hal pertama yang saya lakukan ketika berkunjung ke USA adalah membeli tiket MRT!&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya menyukai kereta, sebagai transportasi publik kereta menakjubkan. Kemampuannya memindahkan banyak orang dalam waktu bersamaan, dan kebebasan kita untuk berjalan-jalan di atas kereta, sangat berbeda dengan bus dan pesawat yang terkurung di tempat duduk. Nah kalau jumlah jalur MRT banyak, kita bisa berganti tujuan ditengah jalan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Mom, I am lost on MRT!”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Maka itu ketika saya berkunjung ke US yang saya cari pertama kali ada tiga: MRT, kartu telepon dan Peta.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebenarnya Amerika bukan surga tranportasi umum. Orang Amerika itu gila dengan mobil, dan beberapa pembicaraan santai dengan keluarga Amerika memang topik mobil dari aspek keamanan, asuransi, kredit itu sesuatu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun di kota pertama yang saya kunjungi: Washington DC lumayan punya transportasi publik yang cukup baik. Ada kereta (MRT) dan juga Bus Lane. Dua duanya ya harus dicoba dong.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jalur dan cakupan MRT di Washington sebenarnya gak gede-gede amat. Misalnya saya gak nemu jalur MRT ke Bandara, berbeda dengan Singapore yang dari ujung ke ujung. MRT Singapore juga lebih menarik karena punya jalur diatas tanah, jadi bisa keliling Singapore sambil liat beragam pemandangan.
Stasiun-stasiun MRT di DC berada di bawah tanah, umumnya menyatu dengan gedung perkantoran atau pertokoan. Saking menyatunya saya agak bingung mencari pintu stasiun. Mesti buka peta berkali-kali memastikan memang pintu stasiun ada di sekitar saya berdiri. Memang setelah diperhatikan ada plang di gedung dan juga trotoar dimana pintu berada. Namun enggak ada kubah atau facade tertentu yang menandakan “Ini loh stasiun!”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_237” align=”alignnone” width=”1024”]&lt;a href=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290004.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290004-1024x725.jpg&quot; alt=&quot;Kereta di MRT DC. Bersih, ramah, sedikit dingin. &quot; /&gt;&lt;/a&gt; Kereta di MRT DC. Bersih, ramah, sedikit dingin.[/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Transportasi publik memang seharusnya diperlakukan sebagai city utility. Ia ada dan bergerak setiap saat namun tidak terlihat. Macam instalasi listrik, air dan gas lah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu hari kunjungan saya di DC, tiba-tiba seluruh jadwal yang sudah dirancang batal. Saat itu kita dijadwalkan untuk bertemu dengan Anggota Konggres AS. Nampaknya mereka sedang sibuk reses hingga gak sempet ketemu empat calon pemimpin Indonesia ini.
Nah lalu saya manfaatkan untuk bertemu dengan beberapa teman di luar jadwal. Dua NGO yang udah lama saya kenal di Indonesia: Human Right Watch dan Freedom Institute. Karena itu hari jumat saya juga berencana untuk mengujungi masjid Ahmadiyah untuk sholat Jumat.
Rupanya hasil penelusuran di peta ketiga tempat itu berada di aera yang sama yaitu Dupont Circle. Maka diputuskan untuk naik MRT. Sebenarnya ada satu mobil operasional yang bisa saya gunakan, namun ketiga teman saya memilih belanja jadi lebih baik mobil itu langsung ke tempat belanja daripada antar saya dulu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Baik kan? Padahal gagal memprovokasi mereka untuk enggak belanja-belanji.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_238” align=”alignnone” width=”1024”]&lt;a href=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290005.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290005-1024x768.jpg&quot; alt=&quot;Pemilihan lampu sorot merah sebagai pembatas. Minimalis dan sureal.&quot; /&gt;&lt;/a&gt; Pemilihan lampu sorot merah sebagai pembatas. Minimalis dan sureal.[/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dari hotel saya cukup berjalan kaki sebentar ke stasiun terdekat, Metro Centre. Nampaknya ini dianggap sebagai pusat MRT karena beberapa jalur bertemu disini. Bayangan saya Metro Centre akan cukup padat dan ramai kayak di film-film atau Singapore. Ternyata Metro Centre dan MRT ini gak penuh-penuh amat, mungkin kayak KRL Jadebotabek Sabtu pagi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang menarik dari stasiun MRT di DC adalah kesederhanaannya. Tadi udah saya bilang kan bahwa penampakan luar nyaris tidak terlihat. Nah di dalam juga sederhana, gak ada ornamen atau hiasan pada dinding. Terowongan jalur kereta bener-bener polos sebuah terowongan beton dengan papan-papan penunjuk seperlunya. Dindin terowongan yang kotak-kotak men0njol mengingatkan saya para roti waffle.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_239” align=”alignnone” width=”1024”]&lt;a href=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290031.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290031-1024x768.jpg&quot; alt=&quot;Terowongan kue waffle&quot; /&gt;&lt;/a&gt; Terowongan kue waffle[/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya menyukai pilihan minimalis seperti ini. Meski agak aneh, karena biasanya fasilitas publik macam MRT di desain lebih wah, dinding keramik, neon sign dan iklan dimana-mana. Macam show lah bahwa ini kota udah canggih!
DC sebagai ibukota negara paling super power mungkin gak perlu praktek-praktek PR macam itu. Kita sebagai pengunjung udah tergakum-kagum sama deretan museum yang aduhai.
Untuk naik MRT ini saya udah persiapkan membeli kartu pintar, bisa dipakai di MRT dan Bus Lane sama dengan Singapore atau Jakarta. Sebelumnya gegara gak punya kartu saya pernah mengemis-ngemis nuker koin agar dilayani oleh mesin tiket otomatis. Petugas stasiun yang ada di box pintu masuk, emoh berurusan dengan tiket. Petugas di Singapore lebih ramah mau membantu membeli tiket secara manual.
Emang salah satu habbit petugas di AS yang saya rasakan itu strict dengan tugasnya. Kalau emang tugas dia maka dia akan melayani dengan baik, ramah dan sepenuh hati. Tapi kalau merasa bukan tugasnya wah jangan terlalu berharap untuk minta tolong deh. Pokoknya tugas gw ya ini, kalau urusan itu tanya ama yang tugas sono.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nah saya duga budaya ini ada kaitan dengan tingginya angka tuntutan hukum oleh warga kepada petugas/profersional (dokter, paramedis, polisi) dibanding negara lain. Jadi para petugas dan profesional lebih berhati-hati untuk enggak menyentuh hal-hal yang bukan jadi tugas dan fungsi pokok mereka.
Sebenarnya perjalanan saya dari Metro Center ke Dupont Circle mungkin lebih pendek dari cerita saya diatas. Ya hanya sekira 10 menit di Jalur Merah. Begitu keluar platfrom dan mencari pintu keluar wahhh ajaib.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dupont Circle&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_240” align=”alignnone” width=”1024”]&lt;a href=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290007.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290007-1024x768.jpg&quot; alt=&quot;Pintu keluar Stasiun Dupont Circle&quot; /&gt;&lt;/a&gt; Pintu keluar Stasiun Dupont Circle[/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertama pintu keluar itu berupa eskalator dalam terowongan yang lumayan panjang. Gelapnya stasiun dibawah dipadu dengan cahaya lembut diluar bikin perjalanan naik eskalator ini sureal. Saya bayangkan kalau bawa kamera video merekam perjalanan dari bawah ke atas, dengan transisi gelap ke terang plus siloute nya cocok untuk opening video traveling.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Begitu keluar dan berjalan-jalan saya langsung jatuh cinta dengan kesederhanaan suasana urban di Dupont. Toko-toko kecil disepanjang jalan, beberapa cafe yang menjorok, trotoar lebar dan arus jalan tidak terlalu padat. Ah mungkin lebih karena suasana mendung pagi hari yang mendadak bikin bumi jadi romantis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapi jika disuruh menggambarkan kota macam apa yang ingin saya tinggal, suasana pinggin DC ini salah satu contohnya. Tenang, lembut dan ramah. Kayak mengenal saya lebih dalam. Puih!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_241” align=”alignnone” width=”1024”]&lt;a href=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290016.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290016-1024x768.jpg&quot; alt=&quot;Dupont, DC dipagi hari. &quot; /&gt;&lt;/a&gt; Dupont, DC dipagi hari.[/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_242” align=”alignnone” width=”1024”]&lt;a href=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290029.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290029-1024x768.jpg&quot; alt=&quot;Sore yang lebih hangat &quot; /&gt;&lt;/a&gt; Sore yang lebih hangat[/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kalau melihat-lihat bangunan dan pemiliknya, Dupont ini nampaknya daerah yang cukup tua dan elit. Banyak bangunan kedutaan atau konsulat ada disini. Tapi juga gak elit-elit banget sehingga berjarak macam Menteng yang penuh dengan penjaga dimana-mana.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_243” align=”alignnone” width=”1024”]&lt;a href=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290017.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290017-1024x1024.jpg&quot; alt=&quot;Holly crap! if I have time machine I want to give this to my mom!&quot; /&gt;&lt;/a&gt; Holly crap! if I have time machine I want to give this to my mom![/caption]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;HRW&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nah mencari kantor HRW juga agak susah, karena gak ada plang mencolok, ia menempati salah satu lantai bangunan pertokoan sederhana. Dengan segala hiruk pikuk yang dibuat HRW di berbagai belahan dunia, kantor di DC yang cukup strategis sebagai jalur lobby sangat-sangat sederhana.
Meski sederhana pengamanan cukup tinggi. Setelah naik lift saya mencapai pintu masuk dengan pintu besi, kaca tebal - saya duga anti peluru - dan lagi-lagi kesederahanaan. Mengunjungi kantor HRW Washington ini mengingatkan saya kala berkunjung ke kantor Annex (tambahan) Kedutaan AS di Jakarta. Tidak terlalu angker seperti gedung utama kedutaan namun tetap rapi, kuat dan dingin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Melihat perbedaan gedung dan ruangan kantor di Jakarta dan DC ini saya merasakan sesungguhnya bangunan-bangunan ini punya jiwa, sesuai dengan manusia dan budaya yang membangunnya. Saya jadi tertarik untuk membuat fotografi bangunan antar daerah, sebagai gambaran manusia dan budaya mereka.
Karena di HRW saya sekedar mampir, say hello dan mengucapkan terimakasih karena telah banyak berkiprah di Indonesia maka kunjungan saya tidak lama. John Sifton, menjemput saya di depan lalu mengajak saya ke dapur untuk minum. Saya memilih teh, dan John tentu saja kopi. Saya rasa hampir seluruh orang Amerika yang saya temui melalui pagi mereka dengan kopi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;John berperawak tinggi sedang, berat ideal sedikit kurus dengan rambut hitam kemerahan. Beberapa kancing kemeja terbuka dan saya tebak baik kemeja dan celananya tidak disetrika. Tatapan matanya yang sering ke atas dan muka flat. Saya duga ia baru melewati malam-malam lembur menyelesaikan laporan.
Saya lalu berkeliling ke ruangan-ruangan kantor, say hello kepada beberapa awak yang berhubungan dengan Asia atau isu Kebebasan Beragama. Ruangan-ruangan cukup lega untuk menampung 2-3 orang per kamar, dengan tumpukan buku dan kertas dimana-mana. Beberapa karyawan membawa lukisan atau benda-benda pribadi mereka menghiasi ruangan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ruangan itu didesain untuk tenang, privat namun hangat terbuka. Penataan yang cukup nyaman untuk menulis. Namun bukan untuk saya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[caption id=”attachment_244” align=”alignnone” width=”1024”]&lt;a href=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290013.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://firdausmubarik.com/wp-content/uploads/2015/12/2015-05-29-Washington-P5290013-1024x768.jpg&quot; alt=&quot;John Sifton (kanan) Direktur Advokasi Asia, HRW.&quot; /&gt;&lt;/a&gt; John Sifton (kanan) Direktur Advokasi Asia, HRW.[/caption]&lt;/p&gt;</content><author><name>firdausmubarik</name></author><category term="2015" /><category term="DC" /><category term="MRT" /><category term="USA" /><summary type="html"></summary></entry></feed>