Gua Kristal Kupang

Kupang, sebuah kota yang misterius. Berbeda dengan kota-kota di Indonesia yang saya kunjungi ia panas dan kering, kontras dengan semarak hijau daerah lain. Ia bagai sebuah alam yang berbeda. Dari Kupang saya belajar keindahan yang berbeda.

Biru, hijau dan putih mewarnai Kupang dengan terik membuat segalnya menjadi kontras. Pohon dan batu, air dan batu kapur.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Seakan dua alam yang berbeda antara surga dan neraka bertemu disini. Teman saya menyebut Kupang sebagai kota yang eksotis, landscape yang jarang ditemui di daerah lain Indonesia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Batu batu karang dan kapur mendominasi wajah tanah, saya melihat beberapa rumah dibangung diatas pondasi batu. Bukan batu-batu yang ditanam tapi berdiri diatas batu yang tertanam kuat.

Muka geologi seperti ini menjanjikan sesuatu: goa-goa karst! sejak lama saya ingin menelusuri goa, ada beberapa destinasi di selatan jawa yang terkenal. Nah di Kupang saya mencari gua yang dapat diekspore, penelurusan di situs traveling menuntun saya pada Goa Kristal, sekira 30 menit dari pusat kota Kupang
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Goa Kristal tak sulit untuk dijangkau, meski ia agak sulit ditemukan tersembunyi di tanah bebatuan, 100 meter dari jalan. Seorang anak, yang tengah menjaga sapi, menawarkan untuk menuntuk kami menuju goa Kristal

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pintu masuknya tak besar, hanya selebar 2 x 1 meter, berkamuflase di antara batu-batu yang lain. Dari mulut gua terpampang jalur vertikal 80 derajat sejauh 20 meter. Hanya sedikit sinar matahari masuk membuat sorot cahaya layaknya studio rekaman. Di dalamnya adalah kolam air dalam keremangan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Airnya sejuk, tidak terlalu dingin ataupun panas. Sedikit asin, saya duga ia punya jalur bawah tanah antara gua dengan laut 200 meter jaraknya. Dengan suhu dan air tak terlalu asin kolam air di dalam goa ini sangat layak untuk berendam berlama-lama.

Karena kecilnya mulut gua, hanya sedikit cahaya yang masuk, sedikit menyulitkan ketika saya mencoba menyelam dan melihat dasar gua. Namun tanpa kacamata renang pun gak merasa sakit atau perih. Airnya cukup terjaga.

Jika hendak berkunjung yang paling tepat sekira pukul 12-15 dimana sinar matahari paling banyak masuk. Sebuah kertas perak akan membantu pencahayaan jika hendak mengambil foto.

 

 

 

 

Yang Berani dari Kersamaju

Rumah kayu panggung, jendela dengan pemandangan sawah dan gunung. Saya rasa itu yang disebut dengan rumah.

 

Akhir pekan lalu saya berkunjung ke Tasikmalaya, menengok sebuah komunitas yang tengah melakukan reclaim. Bukan tanah bukan sawah. Tapi masjid dan hak mereka untuk beribadah dengan tenang dan nyaman.

Ahmadiyah Kersamaju, Cigalontang terletak di perbatasan Garut dan Tasikmalaya, di tepian sungai Cikuray, nama yang sama dengan gunung yang jadi latar belakang.

Ahmadiyah di Kersamaju ini sejatinya bagian dari komunitas yang lebih besar, ada 5000 Muslim Ahmadi di desa Tenjowaringin, Salawu. Namun berbeda desa dan kecamatan, sehingga menyebabkan punya nasib sedikit berbeda.

Menurut pengakuan warga Ahmadiyah, mereka sudah membangun tempat ibadah berupa rumah panggung sejak 1980’an. Orang sana bilang rumah semi permanen, karena statusnya semi maka tahun lalu mereka berencana upgrade ke bangunan yang lebih permanen: bata dan semen. Di poin ini saya enggak setuju, dengan iklim dingin dan vegetasi yang rapat rumah kayu dan panggung itu udah paling pas, dan permanen buat tinggal!

Oke soal bentuk kita tinggal sebentar, karena itu impian saya pribadi punya rumah kayu menghadap gunung dengan gemercik sungai.

Mei tanggal 31, Satuan Polisi PP dan Polisibeneran, mendatangi masjid lalu menutupnya. Pasalnya renovasi dan metamorfosis semi menjadi permanan ini tidak disukai beberapa warga desa yang lain. Gesek-gesek dari orang-orang ini bikin kepala desa ogah memberikan restu untuk upaya mengurus IMB dari masjid yang dipermanenkan.

Jalan menujut Kersamaju, dengan background sungai yang dahsyatullah.

 

Di kampung mana ada bangunan yang pakai IMB? apalagi masjid. Tetapi sebagai warga negara yang taat dan sadar posisi, warga Ahmadiyah memang selalu berusaha memastikan bahwa masjid berdiri di tanah yang tidak sengketa dan ada IMB.

Nah sekali lagi, andai Kersamaju bergeser 1km masuk ke desa Tenjowaringin mungkin akan lain cerita. Ini kampung orang, meski negara kita.

Paska penutupan masjid itu saya bersama teman-teman SobatKBB sempat melakukan kunjungan satu hari Jakarta – Ciamis – Tasikmalaya.

Waktu itu, terus terang saya agak ragu dengan warga Ahmadi Kersamaju, gimana mau merebut haknya kalau antar mereka saja gak kompak dalam menjelaskan duduk masalah dan kelanjutannya. Nampaknya perlu proses yang lebih panjang buat mereka melakukan konsolidasi dan kalkulasi internal.

Seekor kucing, sebut saja mawar, melewati masjid Ahmadiyah Kersamaju tanpa merasa takut dan berdosa

 

Gebrakan Senin

Kata Einstein, waktu itu relatif tergantung pengamat. Dalam kasus saya tergantung pengamat dan pelaku. Karena senin lalu, 29 Juni Ahmadiyah Kersamaju memutuskan membuka mandiri masjid, paska ultimatum agar Bakorpakem membuka masjid tak kunjung hasil.

Kenapa ultimatum pada Bakorpakem? Satpol PP dan Polisi juga aparat negara yang ditanya selalu menunjuk Bakorpakem sebagai pemberi perintah penutupan ini.

Saya sendiri enggak percaya, mana ada Bakorpkem bisa perintah Satpol PP dan Polisi. Cuma Bupati yang bisa, dan selama bupati gak muncul berarti ia sedang melakukan aksi cuci tangan, entah dengan sabun colek atau arang.

Pembukaan mandiri lalu hanya berhasil membebaskan masjid selama dua jam untuk sholat dzuhur lalu ditutup kembali dengan lebih represif dan galak. Bahkan satu rekan jurnalis yang tengah mendokumentasikan diciduk dan dibawa ke Polres Tasikmalaya selama tiga jam.

Kegagalan pembebesan masjid dan aksi represif pada jurnalis dan dokumentator ini membuat warga Ahmadiyah Kersamaju merasa perlu punya kemapuan dokumentasi mandiri. Mereka sadar pada akhirnya mereka harus mandiri.

Belajar Dokumentasi

Tim dokumentasi yang hendak belajar ini terdiri dari belasan perempuan dan 2 lelaki. Umurnya bervariasi dari tampang SMU hingga ibu-ibu 40 tahunan. Dan mereka sangat kompak, kompak diam. Sebagai pembicara yang terbiasa provokatif saya agak grogi menghadapi massa seperti ini. Massa diam yang tidak merespon setiap saya beri waktu untuk bertanya merespon. Entah mereka enggak paham atau lebih mungkin saya enggak bisa menjelaskan hal yang jelas dengan mudah dan jelas.

Jadilah 4 pembicara berbicara dengan singkat dan masuk ke acara berikut: simulasi dan praktek. Ini harapan terakhir, untuk memancing bakat mereka keluar. Belasan orang ini dibagi ke beberapa empat kelompok: video, foto, tulisan dan sosial media. Masing-masing kelompok lalu diberi tugas kecil dan berlatih bersama satu fasilitator.

Firmansyah, dokumenter berbasis di Ciamis menjelaskan prinsip pengambilan gambar dalam kelas simulasi

Enggak banyak hasil yang didapat dari simulasi, namun ada beberapa peserta yang berbakat mengambil gambar dengan tenang dan tidak ambil gambar pantat! ini yang penting sebagai permulaan.

Giliran ditutup mulai lah saya yang terkejut kejut.

Kejutan pertama, ketika saya mendengarkan rekaman peristiwa senin lalu. Video ini diputar untuk melihat bagaimana sih mereka mengambil video dan berhadapan dengan aparatur negara.

Polisi: Jadi bapak ibu siapa yang menyuruh melepas segel, ini melepas segel melanggar aturan. Tidak diperbolehkan, nanti ada konsekuensi

Warga (perempuan): Kalau segel kan seharunya ada surat perintahnya, ada berita acaranya kok ini gak ada.

P: Nanti, nanti difasilitasi yang penting sekarang ini segel kita kembalikan dulu.

W: Kenapa harus nanti, saya mau lihat sekarang

P: Ya itu kan urusan pemda, nanti kami akan fasilitasi kepada pemerintah daerah

W: Ya ini kan udah 3 bulan

P: Iya nanti dikirim, nanti akan dikirim.

Wah berani bener nih si ibu!

Doni. aktivis internet menayangkan timeline twitter yang mengupdate penutupan ulang masjid Kersamaju secara live

 

Kejutan kedua datang ketika apa yang harus dilakukan setelah training. Saya usul ada tugas-tugas kecil yang bisa dilakukan untuk mengasah skill dilanjutkan pertemuan evaluasi sekira 2 minggu sekali. Mereka tertarik. “Kalau ada gerak jalan boleh gak kita dokumentasikan buat latihan?” “Boleh”.

Nah giliran kapan bertemu lagi ada ketidaksepakatan. Seluruh fasilitator berasal dari luar wilayah Kersamaju. Saya sendiri dari Jakarta.

Fasilitator: nanti bisa konsulitasi via email, atau whatsapp

Saya: Atau bisa juga pertemuan, sebaiknya teman-teman yang tentukan pertemuan lalu undang salah satu orang yang dianggap tepat. Kalau teman-teman yang undang akan lebih enak

Peserta: Iya lebih enak kalau ketemu, berbeda rasanya. kalau begitu saya minta nomer-nomernya biar bisa dikontak.

Akhirnya saya minta secarik kertas menulis nama, nomor telpon dan menggulirka ke fasilitator yang lain.

Glek, ntar dua minggu lagi saya ditagih datang. Hahahahaha.

Paska training singkat saya berkunjung ke Kersamaju, duduk manis di rumah sebelah masjid dimana di halamannya berdiri tenda darurat. Obrolan pun berjanjut soal polisi, buka puasa dan masjid.

“Sebenarnya sholat di tenda gak masalah, saya asyik-asyik aja. Malah dingin-dingin gini gak ngantuk. Kalau di mesjid saya suka ngantuk” – sebuah ungkapan jujur yang mewakili saya 🙂

“Bukan soal masjid, kenapa saya diperlakukan enggak adil. Ini yang saya enggak terima. Saya tahu ini bukan soal IMB tapi karena kita Ahmadiyah”.

Ibu-ibu Kersamaju, mereka paham dan peduli akan hak-hak mereka

Saya pingin nangis terharu sekencang-kencangnya diajarin hak-hak sipil di Kersamaju.

 

 

CSS Log: Flexwrap in Safari

I got problems in one of our website: JAX.co.id recently. The body area of page in article is draggable to left. This found in Safari Maveriks, Yosemite doesn’t react this way.

Screen Shot 2015-07-01 at 10.10.04 PM

if i open one article like jazz gunung and swipe the trackpad there will empty space in the right of page.

I have two suspect: css flex or my implementation of parallax banner. After checking several article parallax is out of suspect, it also happened in article without parallax.

Then I open developer tools in Safari, and try to localize the problems. After deleting one by one several element I can identity the problems: newsletter subscription after article and in footer. Deleting that two eliminating the problems.

So my final suspect: FLEX. I use flex because it flexible to have element in right and left in certain width then giving the rest to center element. But flex is part of CSS3 new implementation that not really supported by all browser.

Checking in Cainisue.com i finally figuring out. I forget to give -webkit- prefix in flex box.

css before

form    
    +displayflex() //my custom flex with all prefix
    flex-wrap:  wrap // the problem 
    align-items: center

adding -webkit-flex-wrap: wrap fixing my draggable problem!

before:

Screen Shot 2015-07-01 at 10.09.37 PM

after:

Screen Shot 2015-07-01 at 10.36.14 PM

 

 

 

 

 

 

 

 

Bacaan: Penjara

Dua bacaan menarik dari The New Yorker mengenai kondisi penjara dalam sudut yang berbeda. Penting untuk mengerti mengenai penjara, karena selain toilet, penjara adalah cermin paling gamblang sebuah masyarakat.

Satu adalah penjara keamanan super tinggi ADX di Colorado, US dimana neraka adalah sebutan yang disematkan oleh para penghuninya. Kekerasan, pembunuhan dan sikap curiga menjadi dasar dari pola hidup penjara.

Inside America’s Toughest Federal Prison

Penjara ADX, Colorado, US

Semetara di Halden, Norwegia penjara keamanan super tinggi justru mengurai kekerasan dengan sikap simpatik dan arsitektur ramah manusia. Penulis bisa berkeliaran dari satu sel ke sel lain bahkan masuk ke dapur penuh dengan pisau tajam

The Radical Humaneness of Norway’s Halden Prison

Screenshot 2015-03-29 02.10.51

Penjara di Indonesia tidak kalah kejam dibanding Amerika, dengan kelebihan kapasits, kekurangan uang untuk menghidupi penjara. Juga budaya kekerasan, sogok-menyogok dan narkoba. Namun saya belum menemukan tulisan menarik mengenai penjara di Indonesia.

 

 

22 Takfiri

Di satu sore saya ujug-ujug menerima pesan WhatsApp, Kominfo mengeluarkan edaran pada ISP untuk melakukan sensor terhadap 19 (kemudian menjadi 22) situs berhaluan Islam. Islam macam apa? Dua puluh dua situs ini bisa kita katakan tafsir Islam yang mengajarkan kekerasan atau setidaknya memaklumi kekerasan pada mereka yang berbeda pandangan. Yang berbeda ya sesat dan kafir, itu adalah platform bersama mereka.

Sudah lama saya gerah dengan situs-situs takfiri ini. La piye, mereka ini ada isu Ahmadiyah  bilang “aliran sesat menyesatkan”, gereja dituduh kristenisasi (sejarah Indonesia modern adalah Islamisasi), dan Syiah yang sudah ribuan tahun mereka bilang bukan Islam. Tiap hari komporin isu timur tengah. Beberapa situs bahkan khusus membahas sepak terjang perjuangan ISIS merebut wilayah Irak dan Suriah. Public Relation!

Menarik melihat pemberitaan serangan koalisi Arab terhadap pemberontak di Yaman. Mereka dengan jelas menggunakan kata Syiah Houtsi sebagai penyebutan kelompok pemberontak. Bisa disimpulkan situs-situs ini punya afiliasi ideologi yang kuat dengan ISIS, Arab Saudi dan Anti Syiah. Nah yang malu-malu mereka sebut adalah dukungan Amerika Serikat plus Israel dalam serangan koalisi Arab. Hanya kiblat.net yang memberitakan koalisi Arab Saudi – Israel – Amerika Serikat.

Saya pingin pites satu-satu situs ini. Bukan mencerahkan, malah bikin pembaca meluap-luap api kebencian. Tidak serta merta membaca akan menyebabkan tindakan kekerasan. Tapi jelas ada relasi mesra antara pelaku kekerasan dengan situs takfiri.

Tentu saya senang kalau situs ini lenyap. Jadi saya dukung edaran Kominfo tadi.

Tunggu dulu.

Masalahnya  Kominfo melakukan sensor sepihak, tanpa prosedur hukum jelas dan transparan. Hanya berbekal permintaan BNPT. Buat saya situs website layaknya buku dan koran adalah medium informasi warga. Disana ada hak-hak warga untuk memperoleh informasi yang benar dan berguna. Secara umum saya tidak setuju negara turut campur terlalu dalam atas apa yang – bisa dan tidak bisa –  dibaca, ditonton dan dinikmati oleh warga.

Mahkamah Konstitusi sudah mencabut kewenangan Kejaksaan Agung melakukan bredel atau penarikan buku. Kini mekanisme bredel masih bisa dilakukan, hanya saja harus melalui proses pengadilan.

Kasus-kasus sengketa media (TV, radio dan cetak) harus melalui mediasi atau uji etik Dewan Pers sebelum polisi menerapkan pasal pidana. Media online punya tabiat khusus, dengan adanya UU ITE sengketa media online bisa dipidanakan lewat pasal-pasal karet. Dan kekaretan UU ITE ini punya korban yang menumpuk.

Kembali lagi, saya tidak suka dengan dua puluh dua situs takfiri dan corong ISIS, dan saya percaya hidup lebih tenang tanpa mereka. Tetap, penutupan situs-situs harus memakai prosedur hukum yang jelas. Macam apa?

Pertama, situs-situs yang mengajarkan kekerasan secara langsung bisa dijerat dengan mekanisme “hate speech“, preseden ini pernah terjadi pada siaran radio yang menggerakkan konflik Rwanda. Dalam kasus terorisme ada banyak pasal bisa dimainkan oleh negara, dus bukan berarti mekanisme sidang bisa dilewati.

Kedua, situs yang memberikan fakta palsu bisa disentil lewat Dewan Pers, jika terbukti bersalah Dewan Pers bisa menjatuhkan peringatan hingga sangsi. Ini macam kasus siaran “Empat Mata” si Tukul Arwana. Situs kategori ini umumnya adalah metamorfosa tabloid-tabloid Islam era 2000’an.

Dua hal diatas harus melalui uji hukum yang jelas dan transparant. Pihak yang terancam sangsi harus memiliki kesempatan untuk membela diri dengan pantas.

Sementara situs-situs yang jualan ideologi harus dipandang sebagai musuh ideologis. Cara menghadapi ya dengan tulisan lagi. Biarkan masyarakat yang memilih ide-ide mana yang layak tumbuh berkembang di Indonesia.

Dan mengapa situs berbahaya diatas tidak bisa disensor begitu saja? Begini, manusia menurut ajaran Islam punya derajat lebih tinggi dari Malaikat. Bukan karena manusia lebih “baik” dari malaikat, tetapi karena manusia punya akal. Kemerdekaan manusia untuk memilik “baik” dan “buruk” inilah yang menjadikan ia istimewa. Memaksa manusia menjadi malaikat dengan serta-merta sejatinya merendahkan martabat manusia.

Selain itu sensor itu enggak efektif bung, ada banyak cara media ini akan kembali dengan cepat. Alih-alih membasmi peradaran media takfiri, negara bisa jadi malah memberi promosi gratis buat mereka.

 

 

OPSEC – Operational Security

We live in digital age, but our security still think in old way. Today I read about Operational Security, OPSEC. Some people will say it paranoia but look at that, maybe you will need that.
When Strong Encryption Isn’t Enough to Protect Our Privacy – ALTERNET
“The only protection against communication systems is to avoid their use.”

Shopping For Zero-Days: A Price List For Hackers’ Secret Software Exploits – Forbes

But a four-figure price is hardly elite enough for the Grugq. ”If they want their bugs fixed, they can buy them at market rates like everyone else,” he says. “From each according to their ability, to each according to their needs? That’s communism. If they want the output, they can pay for it like anyone else. They have my email.”

Grugq, Master of Denial, and interview by Blog of War

There are a lot of compound issues which combine to make this sort of “good OPSEC” lifestyle very unhealthy for the human mind:

  1. Isolation
  2. Compartmentation of the ego
  3. Paranoia related stress

Grugq describe some old school behavior still (and more) relevant in digital age.

73 Rules – The late think of Allen Dulles

 

Refleksi

Tahun ini, 10 tahun saya terlibat dalam gerakan pemulihan dan pemenuhan hak kebebasan beragama di Indonesia. Dimulai dari terusirnya saya dari markas Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Juli 2005. Ada banyak pengalaman, dan beberapa hal penting dan praktis yang perlu dipikirkan jika anda ingin berjuang.

List ini tidak hanya berlaku bagi pejuang Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan tapi juga bagi mereka yang melawan impunitas dan totalitarian.

Kesadaran dan Percaya Diri

Tanpa kesadaran mustahil kita bersedia bekerja keras bertahun-tahun menghadapi derita sambil tersenyum. Tanpa percaya diri mustahil melakukan hal-hal yang dianggap orang lain sebagai tindakan bodoh.

Kesadaran paling penting kita sebagai manusia punya hak dan kesempatan yang sama dengan warga negara lain. Tidak ada satupun yang bisa menghentikan manusia untuk hidup layak dalam harga diri dan bermartabat.

Kesadaran tanpa percaya diri hanya menjadi pasifis, kepercayaan diri diperlukan untuk berani memperjuangkan hak-hak dan tujuan kita. Kepercayaan diri bahwa kita, dengan satu dua cara dan bersama-sama akan dapat memulihkan hak-hak kita yang hilang. Pasti.

Non Kekerasan

Tujuan kita mengembalikan hak-hak yang hilang, menempatkan seluruh manusia pada situasi yang bermartabat. Kekerasan berlawanan dengan tujuan-tujuan itu. Kekerasan pasti menghilangkan hak-hak orang lain, harta, masa depan dan mungkin nyawa.

Akan ada situasi dimana kekerasan sangat menggoda untuk dilakukan. Situasi ini begitu membuai hasrat-hasrat mencapai tujuan. “ayo hanya sedikit pukulan kecil, dan semua masalah selesai. Tidak ada yang tahu”. Kekerasan satu akan membawa pada kekerasan yang lain.

Menolak melakukan kekerasan bukan berarti lemah dan tidak membela diri. Beware.

Bersolidaritas

Kebenaran yang hanya diamini oleh diri sendiri adalah omong kosong. Kita harus bergerak mendekat pada orang-orang memiliki tujuan sama, sebaiknya mereka yang memilih cara dan nilai yang sama. Dengan bersolidaritas, kita menjadi kuat dan tajam.

Solidaritas bukan berkelompok, tidak sekedar. Bersolidaritas artinya kita menjadi sebuah gerakan yang selaras, bersama dan saling mendukung.

Mustahil bersolidaritas jika hanya memperjuangkan kepentingan kelompok sendiri. Solidaritas harus mencari nilai yang sama selain kepentingan yang sama.

Jangan Percaya “Pemerintah”

Ini adalah prinsip yang dipegang malu-malu oleh banyak orang. Tapi saya akan menegaskan disini jangan pernah percaya pada pemerintah. Merekalah selama ini duduk pada kekuasaan, melihat dengan teropong intelejen dan mengirim cambuk-cambuk lewat aparat.

Kita, secara taktis dapat (dan harus) bekerja sama dengan pemerintah. Kita harus menjalin hubungan yang baik, menyadarkan aparat-aparat negara untuk patuh pada konstitusi. Bekerja sama menyelesaikan problem sosial dan kepentingan warga negara.

Namun di akhir ketahuilah, pemerintah yang dengan sengaja menghilangkan hak-hak warganya tidak akan dengan begitu saja memulihkan hak-hak tersebut kecuali: terdesak secara politik atau digantikan.

Gunakan Media

Untuk memperbesar secara cepat sumber daya yang kecil, gunakan media massa dengan cermat. Dekati para wartawan dan pemegang kebijakan media massa. Berdialog dan berkawanlah.

Kita harus memastikan bahwa para wartawan dan redaktur memiliki pengetahuan yang cukup. Mereka juga harus melihat melalui sudut pandang korban. Hanya dengan cara-cara seperti itu media massa akan dapat mendukung perjuangan pemulihan hak.

Jika tidak, media massa justru akan jadi corong-corong kekuasaan dan menebarkan kebencian. Pemerintah memiliki posisi tawar tinggi pada media, sementara kelompok-kelompok besar menggunakan ekonomi korporasi untuk menguasi perusahaan-perusahaan media massa.

Belajar dan Praktekkan

Belajarlah beberapa “live skill” yang bermanfaat baik untuk pribadi maupun komunitas anda. Pelajaran “Keamanan Personal dan Komunitas” bisa membantu kita menganalisa ancaman, bergerak menghilangkan ancaman dan melakukan perbaikan.

Gunakan tools teknologi yang populer seperti handphone, internet dan social media. Pelajari bagaimana merekam, menyunting dan distribusi foto/suara/video dengan peralatan yang tersedia. Anda akan hidup lebih tenang jika mengontrol bukti.

Ada banyak skill yang dapat dipelajari, berkonsultasilah pada kawan-kawan pembela hak asasi manusia, jurnalis, artis, akademisi di sekitar anda. Kita sering lupa dengan sumber daya disekitar kita.

90% Politik, Hukum adalah sisanya

Sebagian besar masalah pemulihan hak adalah situasi dan posisi politik. Kita kalah berunding bukan karena salah, kita kalah berunding karena lemah. Penegakan hukum tidak bisa dilakukan hanya dengan melakukan perbaikan teks teks undang-undang atau melawan di pengadilan, meski itu perlu dilakukan.

Jadi ingatlah ketika kita berjuang memperbaiki hukum-hukum yang ada, ada 10 kali lipat pekerjaan politik yang harus dilakukan secara bersamaan.

Pada akhirnya jadilah warga negara yang baik, patuhi semua aturan, membangkahlah pada hukum yang salah.

 

 

 

 

 

 

Kehidupan

Apakah kesadaran. Sesuatu yang kita sadari bahwa kita tidak menyadari bagaimana dunia ini berjalan. Bagaimana tubuh ini bekerja. Dan kemudian saya berani berpikir bisa merubah bagaiamana tubuh saya merespon sesuatu.

Ada banyak perdebatan yang terjadi beberapa hari ini. Sesuatu yang detik demi detik merubah kesadaran saya memandang dunia dan nyawa manusia.

Kita mulai dengan Charlie, ya Charlie Hebdo. Lima belas nyawa, sekurangnya, meregang bagi ide yang mereka percaya. Para komikus percaya satire akan membawa pencerahan manusia, setidaknya manusia di Prancis.

Para wartawan, atau komikus percaya pena mereka akan merubah masyarakat memandang negara, pemimpin agama, gereja. Sesuatu yang sakral, ingin mereka lawan.

Satire adalah anarki, ia mencoba menggoyang apa saja yang berkuasa, mapan dan absolute. Dan anarki bukanlah penghancuran tatanan dan keteraturan, namun percaya manusia, dengan kesadaran yang tepat, tidak lagi membutuhkan otoritas, perintah dan hukuman untuk bergerak dengan tepat.

Ketika tiga juta warga Prancis, diboncengi kerumpunan selfie pemimpin dunia berparade, saya bayangkan para komikus di dunia sana sedang menggambar bumi dengan tertawa. Bahwa masyarakat tak butuh negara dan pemimpin agama untuk bergerak.

Dua pelaku penyerangan di kantor Charlie yakin serangan dan pembunuhan bukan dendam pribadi pada kantor sialan. Peluru-perluru itu luntah bagi ide yang mereka percaya. Sebuah keteraturan tunggal dan harmonis.

Bagi mereka sebuah tatanan yang benar adalah masyarakat yang satu. Masyarakat yang percaya pada satu agama, terpimpin oleh satu komando dan hidup dalam satu budaya. Bagia ide utopia setinggi itu, sebuah serangan yang berakhir jadi bunuh diri adalah harga yang wajar.

Orang-orang ini meregang nyawa untuk yang mereka percaya. Bukan kematian yang buruk saya pikir. Dalam hembusan terakhir nafas, mereka mengumam “saya tidak mati sia-sia”

Tapi adakah pembunuhan yang tidak sia-sia?

Empat pemuda di Paniai, Papua meninggal ditembak pasukan Indonesia. Dalam waktu hampir sama dua ratus orang diculik, dibunuh dan mati dalam ketakutan di Nigeria. Pelakunya sama, mereka-mereka yang punya kepercayaan absolut pada kebenaran. Namun mungkin kali ini korbannya tidak sempat berpikir “saya tidak mati sia-sia”.

Apakah yang membuat lima belas (atau dua belas) nyawa lebih bernilai dan sanggup menggerakan tiga juta orang, lalu empat atau dua ratus nyawa lain kurang berharga?

Hukuman Mati

Eksekusi hukuman mati baru dilangsungkan pada penjahat berat: pengedar narkoba. Kematian enam orang narapidana itu dianggap setimpal, bukan atas berapa nyawa yang mereka buat merenggang di IGD (dan di sofa) tapi karena nyawa enam orang itu akan selamatkan lebih banyak manusia dari over dosis.

Perdebatan hukuman mati lebih sering dilandaskan pada moralitas soal nyawa yang (masih) hidup. Satu sisi moral menyebutkan hukuman mati akan mencegah calon pelaku berbuat hal sama: menjual narkoba. Itu selamatkan banyak manusia dari kematian sia-sia.

Moralitas lain bicara negara bukan tuhan yang berhak mencabut nyawa hidup. Penghapusan hukuman mati akan berakibat ada enam nyawa yang “terselamatkan”.

Namun lima atau sepuluh tahun dari sekarang tidak akan ada orang yang menghitung. Berapa banyak nyawa yang benar-benar terselamatkan dari hukuman mati itu, atau berapa nyawa justru merenggang karenanya. Masyarakat yang sama tidak ambil pusing atas empat dan dua ratus nyawa lain di Paniai dan Nigeria.

Semua pembunuhan, oleh tentara, regu tembak hingga kombatan  bukan untuk mencegah kematian yang lain. Bukan pula untuk balas dendam. Pembunuhan itu terjadi untuk memuaskan hasrat kita pada kebenaran.

Demi dunia yang “lebih baik” itulah pembunuhan-pembuhan itu dilakukan dan dimaklumkan. Kematian tidak pernah berharga. Kehidupanlah yang berharga.

Kita harus sadar makam pahlawan dibangun megah bukan untuk menghormati mereka yang mati. Tapi membenarkan mereka yang hidup, menang dan berkuasa. Kematian “pahlawan” adalah pembenaran pada laku dan moralitas yang hidup.

Jakarta, 22 Jan 2015

 

Reclaim Masjidmu, rebut gerejamu

Ada perkembangan baru pada kelompok agama yang tertindas di Indonesia, yaitu semangat untuk mengambil kembali hak-hak mereka untuk beribadah. Dalam satu tahun ke belakang proses ini dilakukan di 3 lokasi: Ahmadiyah Ciamis, Pantekosta di Gunung Kidul dan Ahmadiyah di Depok.

Ketika komunitas tersebut melakukan upaya agar rumah ibadah yang ditutup dapat digunakan kembali, tentu ini bukan berita baru, lalu apa yang baru?

Pertama adalah kelompok korban tidak lagi mengharapkan pemulihan hak oleh negara. Paradigma bahwa negara harus kuat, penegakan hukum yang tegas akan menghasilkan situasi yang baik bagi kelompok agama kecil, tak lagi mempan. Bertahun-tahun kita berjuang agar Komnas HAM, Komnas Perempuan dan Polisi diperkuat. Kebijakan dirubah agar mereka punya ruang gerak, mentalitas pejabat/aparat/komunisoner diperbaiki. Kalau perlu mereka diberi bantuan finansial agar berdaya. Nyatanya ketiga instutusi ini nampak tak bertaji.

Kedua adalah perubahan relasi antara korban dan pendamping. Para pendamping yang umumnya berasal dari LSM berbasis isu hukum atau HAM pada awalnya punya beban dalam inisiatif dan pengawalan proses. Korban lebih sering terseok-seok mengikuti proses dan logika yang berjalan. Dalam teori reclaim ini, korbanlah yang memiliki inisiatif dan mengkoordinir proses pendampingan yang dilakukan oleh kawan-kawan pembela HAM.

Ketika adalah strategi komunikasi. Proses reclaim bersifat lebih terbuka dalam proses terhadap masyarakat sekitar dan aparat pemerintah daerah, namun tidak ekstensif menggunakan media masa. Dalam proses pembukaan Masjid Ahmadiyah di Ciamis misalnya, paska pembukaan maka jemaah Ahmadiyah langsung melakukan laporan ke Polisi untuk memberitahu proses pembukaan tutup dan meminta jaminan keamanan. Proses ini berbeda dengan strategi beberapa masjid yang menggunakan secara diam-diam melalui pintu belakang.

Namun dalam proses ini justru tidak secara ekstensif memanfaatkan media massa. Dalam relcaim di Ciamis hanya bebeapa media terlibat, sementara di Gunung Kidul hampir tidak ada media yang menulis penggunaan gereja untuk ibadah Natal oleh jemaah Pantekosta.

Strategi komunikasi ini diambil agar para anggota komunitas memiliki waktu yang cukup untuk menggalag dukungan dari masyarakat sekitar, sehingga dapat dibuat layer penyangga yang kuat.

Melipat ganda

Bagaimanakah mempercepat proses reclaim hak ini dapat terjadi di lebih banyak wilayah? Saya rasa ada beberapa hal yang perlu dikerjakan bersama.

Pertama adalah membangun kesadaran yang jernih pada kelompok korban. Bahwa mereka adalah warga negara yang memiliki hak konsitusional yang sama dengan masyarakat lain. Bahwa tindakan negara dalam pembiaran atau penutupan rumah ibadah, tidaklah sah secara konstitusinal, meski kadang menggunakan peraturan/kebijakan yang legal. Pemahaman ini penting agar pemimpin, umat dan organisasi tidak gamang karena merasa melakukan pelanggaran hukum dengan melakukan pembangkangan terhadap beberapa peraturan.

Kedua adalah kesadaran korban dan komunitas sebagai pusat dari gerakan. Mereka harus memiliki kesadaran bahwa dari semua pilihan yang tersedia, komunitaslah yang memiliki keputusan akhir serta menerima manfaat dan resikonya. Pihak-pihak lain: pembela ham, jurnalis, aparat negara, peraturan haruslah dipandang sebagai tools yang dapat dipilih untuk digunakan.

Saya menggambarkan para mitra itu: pembela ham, media massa, lembaga negara semacam supermarket dimana komunitas bisa berbelanja kebutuhan advokasi. Dengan waktu dan uang yang terbatas komunitas harus dengan cermat memilih tool apa yang akan diambil dan digunakan. Kadan kala barang yang diinginkan tidak tersedia, namun kita harus dengan cerdas memilih subtitusi dengan satu atau lebih tools yang lain. Ketika dihadapkan pada pilihan barang para korban seringkali berubah menjadi: shopaholic.

Ketiga tentu membangun jaringan mitra-mitra di berbagai daerah yang bersedia melakukan pendampingan terhadap proses, dengan rendah hati. Kerendahan hati amat penting agar tidak terjadi kepentingan korban justru dikalahkan oleh kepentingan pribadi atau organisasi dari pendamping, yang seringkali sama baiknya.

Jakarta, 16 Januari 2015