in Opinion

Kebenaran yang Mutlak?

Ini gara-gara Gus Mus, kyai unik yang melek social media. Salah satu postingan dia, disebar oleh kawan saya di grup WhatsApp membahas soal kebenaran. Begini bunyinya:

“Kebenaran kita berkemungkinan salah, kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Hanya kebenaran Tuhan yang benar-benar benar”.

Sebuah pernyataan sederhana namun mendalam dan penting. Respon orang-orang terhadap pernyataan ini ternyata tidak sesederhana yang saya bayangkan.

Apakah kebenaran, dan bagaimana mengukur kebenaran? Kritik terhadap pernyataan itu dilontarkan oleh teman-teman yang “gila” Quran dan Hadist, dengan mendalih bahwa sebagai muslim kebenaran harus didasarkan pada Quran dan Hadist.

Benarkah? Apakah berpijak Quran dan Hadist cukup untuk mendapatkan kebenaran?

Saya kemudian berpikir mengenai relativitas kebenaran berdasarkan waktu. Baiklah, katakan kita menerima bahwa “kebenaran” yang diterima umat Islam adalah yang mendasar pada Quran dan Hadist (atau Sunnah).

Masalah pertama, jelas Al Quran dan Hadist tidak abadi. Ada jaman pra Al Quran dimana belum turun, atau belum turun secara lengkap. Bagaimanakah para penerima Islam di awal-awal bisa menerima Nabi Muhammad? Apa yang mereka baca? Apa referensi yang mereka gunakan?

Tentu yang mereka lihat adalah Nabi Muhamamd langsung atau melalui para sahabatnya (ingat Quran tercetak baru resmi ada di jaman Ustman dan Hadist 2 abad kemudian). Dengan tidak adanya teks-teks yang mereka pakai apa yang mereka gunakan untuk menerima Nabi Muhammad?

Pasti bukan kepatuhan, karena jika kepatuhan yang dijadikan dasar utama maka mereka akan tetap menganut agama nenek moyang mereka. Orang-orang Mekkah akan tetap menyembah berhala. Dan Abu Lahab atau mungkin Abu Sofyan yang lebih licin bisa jadi akan dikenal sebagai pemersatu Jazirah Arab saat ini.

Saya rasa satu-satunya tool yang tersedia untuk mengenal kebenaran pada saat itu adalah: AKAL. Khadijah menggunakan akal melihat track record suamiya itu. Bilal menggunakan akal bahwa Islam lah yang mungkin membebaskan dia dan sesama umat budak menuju pembebasan. Abu Bakar menggunakan akal bahwa yang dibawa Rasulullah jelas lebih bisa diterima ketimbang ajaran lama.

Sebagian umat yang masuk Islam mungkin berpikir lebih baik menerima Islam dan menjadi gelombang baru ketimbang terlibas jaman.

Jadi sangat aneh jika ada muslim yang saat ini berpikir “agama itu gak perlu pakai akal terlalu banyak, nanti sesat”. Saya rasa perkataan mereka jelas merupakan penghinaan terhadap para sahabat awal Rasulullah.

Kedua yang gagal dipahami adalah kebenaran terutama yang berkaitan dengan ETIKA berkembang dari jaman ke jaman. Apa yang dianggap wajar dahulu kala belum tentu bisa diterima pada saat ini.

Misal perbudakan. Meski Nabi Muhammad berusaha membebaskan budak sebanyak-banyaknya beliau tidak melarang perbudakan secara serta-merta. Akibatnya secara hukum perbudakan adalah legal. Kalau sekarang perbudakan tetap dilakukan saya yakin nanti akan ada budak syar’i. Tapi mana ada orang Islam yang waras di Indonesia berani mengatakan bahwa perbudakan adalah sebuah hal benar dan dapat diterima?

Jadi akan percuma mencari-cari rujukan soal perbudakan pada ulama-ulama syalaf. Karena perbudakan tidak bisa diterima dan dibenarkan pada saat ini. Titik.

Baik kita masuk hal yang lebih abu-abu. Semua orang bisa menerima bahwa pemerkosaan adalah kejahatan dan pantas dihukum berat. Saking beratnya banyak warga Indonesia setuju bahwa pemerkosa anak dihukum kebiri (kimia).

Pertanyaannya apakah pemerkosaan itu? Apakah musti memasukkan sesuatu ke dalam lubang disebut pemerkosaan? Apa batas dari tindakan sexist, pelecehan seksual dan pemerkosaan?

Pada jaman Nabi, batas anak-anak dan dewasa adalah menstruasi bagi perempuan dan mimpi basah bagi lelaki. Dan Nabi Muhammad sendiri menikahi Aisyah pada umur yang masih muda.

Berapa banyak orang saat ini rela menikahkan anak perempuannya setelah mengalami menstruasi? Masih ada perdebatan di ranah hukum berapa batas umur kedewasaan: 16, 18 atau bahkan 21 tahun. Namun pasti menikahkan anak diumur 15 tahun bisa membuat Polisi turun tangan.

Jadi apakah standar itu masih bisa dipakai pada saat ini? Bisa jadi jika dilakukan sekarang ini akan masuk kategori pemerkosaan. Dan logika ini juga yang digunakan haters Islam menggunakan etika masa kini untuk menilai kejadian dan kebenaran masa lalu.

Masih yakin gak perlu Akal buat mencerna kebenaran dan agama?

Maka akan tersesatlah hai orang-orang yang tidak mau menggunakan Akal! 🙂

Apa suara anda?

Comment

  1. Referensi dari suatu kebenara dlm kontekstual KENARAN DEJATI itu adalah kitabullah (Taurat, Injil dan Al-Quran QS.Al-Maidah[5]:68).

    “HADITS” itu bermakna “PERKATAAN”. Perkataan yg HAQ (akhsanal alhaditsi) QS.Az-Zumar[39]:23, dan perkataan yg BATHIL (lahwal alhaditsi) QS.Luqman[31]:6. Dan Al-Quran itu sendiri tdk membutuhkan kitab2 lain utk menjelaskan tentang Al-Quran itu sendiri, karena QS.Al-Baqarah[2]:185 ialah mutlak sebagai petunjuk (hudan), pembeda (furqan) dan penjelas tentang Al-Quran itu sendiri (baiyitina minalhuda).

    Sesungguhnya KENARAN itu datangnya dari Tuhan mu…