in Travel

USA: MRT in DC

Saya menyukai transportasi public, terutama kereta cepat. Efisiensi yang mereka miliki untuk memindahkan orang dari satu tempat seperti melempar bola bisbol berurutan.  Salah hal pertama yang saya lakukan ketika berkunjung ke USA adalah membeli tiket MRT!

Saya menyukai kereta, sebagai transportasi publik kereta menakjubkan. Kemampuannya memindahkan banyak orang dalam waktu bersamaan, dan kebebasan kita untuk berjalan-jalan di atas kereta, sangat berbeda dengan bus dan pesawat yang terkurung di tempat duduk. Nah kalau jumlah jalur MRT banyak, kita bisa berganti tujuan ditengah jalan.

“Mom, I am lost on MRT!”

Maka itu ketika saya berkunjung ke US yang saya cari pertama kali ada tiga: MRT, kartu telepon dan Peta.

Sebenarnya Amerika bukan surga tranportasi umum. Orang Amerika itu gila dengan mobil, dan beberapa pembicaraan santai dengan keluarga Amerika memang topik mobil dari aspek keamanan, asuransi, kredit itu sesuatu.

Namun di kota pertama yang saya kunjungi: Washington DC lumayan punya transportasi publik yang cukup baik. Ada kereta (MRT) dan juga Bus Lane. Dua duanya ya harus dicoba dong.

Jalur dan cakupan MRT di Washington sebenarnya gak gede-gede amat. Misalnya saya gak nemu jalur MRT ke Bandara, berbeda dengan Singapore yang dari ujung ke ujung. MRT Singapore juga lebih menarik karena punya jalur diatas tanah, jadi bisa keliling Singapore sambil liat beragam pemandangan.
Stasiun-stasiun MRT di DC berada di bawah tanah, umumnya menyatu dengan gedung perkantoran atau pertokoan. Saking menyatunya saya agak bingung mencari pintu stasiun. Mesti buka peta berkali-kali memastikan memang pintu stasiun ada di sekitar saya berdiri. Memang setelah diperhatikan ada plang di gedung dan juga trotoar dimana pintu berada. Namun enggak ada kubah atau facade tertentu yang menandakan “Ini loh stasiun!”.

Kereta di MRT DC. Bersih, ramah, sedikit dingin.

Kereta di MRT DC. Bersih, ramah, sedikit dingin.

Transportasi publik memang seharusnya diperlakukan sebagai city utility. Ia ada dan bergerak setiap saat namun tidak terlihat. Macam instalasi listrik, air dan gas lah.

Salah satu hari kunjungan saya di DC, tiba-tiba seluruh jadwal yang sudah dirancang batal. Saat itu kita dijadwalkan untuk bertemu dengan Anggota Konggres AS. Nampaknya mereka sedang sibuk reses hingga gak sempet ketemu empat calon pemimpin Indonesia ini.
Nah lalu saya manfaatkan untuk bertemu dengan beberapa teman di luar jadwal. Dua NGO yang udah lama saya kenal di Indonesia: Human Right Watch dan Freedom Institute. Karena itu hari jumat saya juga berencana untuk mengujungi masjid Ahmadiyah untuk sholat Jumat.
Rupanya hasil penelusuran di peta ketiga tempat itu berada di aera yang sama yaitu Dupont Circle. Maka diputuskan untuk naik MRT. Sebenarnya ada satu mobil operasional yang bisa saya gunakan, namun ketiga teman saya memilih belanja jadi lebih baik mobil itu langsung ke tempat belanja daripada antar saya dulu.

Baik kan? Padahal gagal memprovokasi mereka untuk enggak belanja-belanji.

Pemilihan lampu sorot merah sebagai pembatas. Minimalis dan sureal.

Pemilihan lampu sorot merah sebagai pembatas. Minimalis dan sureal.

Dari hotel saya cukup berjalan kaki sebentar ke stasiun terdekat, Metro Centre. Nampaknya ini dianggap sebagai pusat MRT karena beberapa jalur bertemu disini. Bayangan saya Metro Centre akan cukup padat dan ramai kayak di film-film atau Singapore. Ternyata Metro Centre dan MRT ini gak penuh-penuh amat, mungkin kayak KRL Jadebotabek Sabtu pagi.

Yang menarik dari stasiun MRT di DC adalah kesederhanaannya. Tadi udah saya bilang kan bahwa penampakan luar nyaris tidak terlihat. Nah di dalam juga sederhana, gak ada ornamen atau hiasan pada dinding. Terowongan jalur kereta bener-bener polos sebuah terowongan beton dengan papan-papan penunjuk seperlunya. Dindin terowongan yang kotak-kotak men0njol mengingatkan saya para roti waffle.

Terowongan kue waffle

Terowongan kue waffle

Saya menyukai pilihan minimalis seperti ini. Meski agak aneh, karena biasanya fasilitas publik macam MRT di desain lebih wah, dinding keramik, neon sign dan iklan dimana-mana. Macam show lah bahwa ini kota udah canggih!
DC sebagai ibukota negara paling super power mungkin gak perlu praktek-praktek PR macam itu. Kita sebagai pengunjung udah tergakum-kagum sama deretan museum yang aduhai.
Untuk naik MRT ini saya udah persiapkan membeli kartu pintar, bisa dipakai di MRT dan Bus Lane sama dengan Singapore atau Jakarta. Sebelumnya gegara gak punya kartu saya pernah mengemis-ngemis nuker koin agar dilayani oleh mesin tiket otomatis. Petugas stasiun yang ada di box pintu masuk, emoh berurusan dengan tiket. Petugas di Singapore lebih ramah mau membantu membeli tiket secara manual.
Emang salah satu habbit petugas di AS yang saya rasakan itu strict dengan tugasnya. Kalau emang tugas dia maka dia akan melayani dengan baik, ramah dan sepenuh hati. Tapi kalau merasa bukan tugasnya wah jangan terlalu berharap untuk minta tolong deh. Pokoknya tugas gw ya ini, kalau urusan itu tanya ama yang tugas sono.

Nah saya duga budaya ini ada kaitan dengan tingginya angka tuntutan hukum oleh warga kepada petugas/profersional (dokter, paramedis, polisi) dibanding negara lain. Jadi para petugas dan profesional lebih berhati-hati untuk enggak menyentuh hal-hal yang bukan jadi tugas dan fungsi pokok mereka.
Sebenarnya perjalanan saya dari Metro Center ke Dupont Circle mungkin lebih pendek dari cerita saya diatas. Ya hanya sekira 10 menit di Jalur Merah. Begitu keluar platfrom dan mencari pintu keluar wahhh ajaib.

Dupont Circle

Pintu keluar Stasiun Dupont Circle

Pintu keluar Stasiun Dupont Circle

Pertama pintu keluar itu berupa eskalator dalam terowongan yang lumayan panjang. Gelapnya stasiun dibawah dipadu dengan cahaya lembut diluar bikin perjalanan naik eskalator ini sureal. Saya bayangkan kalau bawa kamera video merekam perjalanan dari bawah ke atas, dengan transisi gelap ke terang plus siloute nya cocok untuk opening video traveling.

Begitu keluar dan berjalan-jalan saya langsung jatuh cinta dengan kesederhanaan suasana urban di Dupont. Toko-toko kecil disepanjang jalan, beberapa cafe yang menjorok, trotoar lebar dan arus jalan tidak terlalu padat. Ah mungkin lebih karena suasana mendung pagi hari yang mendadak bikin bumi jadi romantis.

Tapi jika disuruh menggambarkan kota macam apa yang ingin saya tinggal, suasana pinggin DC ini salah satu contohnya. Tenang, lembut dan ramah. Kayak mengenal saya lebih dalam. Puih!

Dupont, DC dipagi hari.

Dupont, DC dipagi hari.

 

Sore yang lebih hangat

Sore yang lebih hangat

Kalau melihat-lihat bangunan dan pemiliknya, Dupont ini nampaknya daerah yang cukup tua dan elit. Banyak bangunan kedutaan atau konsulat ada disini. Tapi juga gak elit-elit banget sehingga berjarak macam Menteng yang penuh dengan penjaga dimana-mana.

 

Holly crap! if I have time machine I want to give this to my mom!

Holly crap! if I have time machine I want to give this to my mom!

HRW

Nah mencari kantor HRW juga agak susah, karena gak ada plang mencolok, ia menempati salah satu lantai bangunan pertokoan sederhana. Dengan segala hiruk pikuk yang dibuat HRW di berbagai belahan dunia, kantor di DC yang cukup strategis sebagai jalur lobby sangat-sangat sederhana.
Meski sederhana pengamanan cukup tinggi. Setelah naik lift saya mencapai pintu masuk dengan pintu besi, kaca tebal – saya duga anti peluru – dan lagi-lagi kesederahanaan. Mengunjungi kantor HRW Washington ini mengingatkan saya kala berkunjung ke kantor Annex (tambahan) Kedutaan AS di Jakarta. Tidak terlalu angker seperti gedung utama kedutaan namun tetap rapi, kuat dan dingin.

Melihat perbedaan gedung dan ruangan kantor di Jakarta dan DC ini saya merasakan sesungguhnya bangunan-bangunan ini punya jiwa, sesuai dengan manusia dan budaya yang membangunnya. Saya jadi tertarik untuk membuat fotografi bangunan antar daerah, sebagai gambaran manusia dan budaya mereka.
Karena di HRW saya sekedar mampir, say hello dan mengucapkan terimakasih karena telah banyak berkiprah di Indonesia maka kunjungan saya tidak lama. John Sifton, menjemput saya di depan lalu mengajak saya ke dapur untuk minum. Saya memilih teh, dan John tentu saja kopi. Saya rasa hampir seluruh orang Amerika yang saya temui melalui pagi mereka dengan kopi.

John berperawak tinggi sedang, berat ideal sedikit kurus dengan rambut hitam kemerahan. Beberapa kancing kemeja terbuka dan saya tebak baik kemeja dan celananya tidak disetrika. Tatapan matanya yang sering ke atas dan muka flat. Saya duga ia baru melewati malam-malam lembur menyelesaikan laporan.
Saya lalu berkeliling ke ruangan-ruangan kantor, say hello kepada beberapa awak yang berhubungan dengan Asia atau isu Kebebasan Beragama. Ruangan-ruangan cukup lega untuk menampung 2-3 orang per kamar, dengan tumpukan buku dan kertas dimana-mana. Beberapa karyawan membawa lukisan atau benda-benda pribadi mereka menghiasi ruangan.

Ruangan itu didesain untuk tenang, privat namun hangat terbuka. Penataan yang cukup nyaman untuk menulis. Namun bukan untuk saya.

John Sifton (kanan) Direktur Advokasi Asia, HRW.

John Sifton (kanan) Direktur Advokasi Asia, HRW.

Apa suara anda?

Comment