in Travel

Gua Kristal Kupang

Kupang, sebuah kota yang misterius. Berbeda dengan kota-kota di Indonesia yang saya kunjungi ia panas dan kering, kontras dengan semarak hijau daerah lain. Ia bagai sebuah alam yang berbeda. Dari Kupang saya belajar keindahan yang berbeda.

Biru, hijau dan putih mewarnai Kupang dengan terik membuat segalnya menjadi kontras. Pohon dan batu, air dan batu kapur.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Seakan dua alam yang berbeda antara surga dan neraka bertemu disini. Teman saya menyebut Kupang sebagai kota yang eksotis, landscape yang jarang ditemui di daerah lain Indonesia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Batu batu karang dan kapur mendominasi wajah tanah, saya melihat beberapa rumah dibangung diatas pondasi batu. Bukan batu-batu yang ditanam tapi berdiri diatas batu yang tertanam kuat.

Muka geologi seperti ini menjanjikan sesuatu: goa-goa karst! sejak lama saya ingin menelusuri goa, ada beberapa destinasi di selatan jawa yang terkenal. Nah di Kupang saya mencari gua yang dapat diekspore, penelurusan di situs traveling menuntun saya pada Goa Kristal, sekira 30 menit dari pusat kota Kupang
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Goa Kristal tak sulit untuk dijangkau, meski ia agak sulit ditemukan tersembunyi di tanah bebatuan, 100 meter dari jalan. Seorang anak, yang tengah menjaga sapi, menawarkan untuk menuntuk kami menuju goa Kristal

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pintu masuknya tak besar, hanya selebar 2 x 1 meter, berkamuflase di antara batu-batu yang lain. Dari mulut gua terpampang jalur vertikal 80 derajat sejauh 20 meter. Hanya sedikit sinar matahari masuk membuat sorot cahaya layaknya studio rekaman. Di dalamnya adalah kolam air dalam keremangan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Airnya sejuk, tidak terlalu dingin ataupun panas. Sedikit asin, saya duga ia punya jalur bawah tanah antara gua dengan laut 200 meter jaraknya. Dengan suhu dan air tak terlalu asin kolam air di dalam goa ini sangat layak untuk berendam berlama-lama.

Karena kecilnya mulut gua, hanya sedikit cahaya yang masuk, sedikit menyulitkan ketika saya mencoba menyelam dan melihat dasar gua. Namun tanpa kacamata renang pun gak merasa sakit atau perih. Airnya cukup terjaga.

Jika hendak berkunjung yang paling tepat sekira pukul 12-15 dimana sinar matahari paling banyak masuk. Sebuah kertas perak akan membantu pencahayaan jika hendak mengambil foto.

 

 

 

Apa suara anda?

Comment