in Religious Freedom

Yang Berani dari Kersamaju

Rumah kayu panggung, jendela dengan pemandangan sawah dan gunung. Saya rasa itu yang disebut dengan rumah.

 

Akhir pekan lalu saya berkunjung ke Tasikmalaya, menengok sebuah komunitas yang tengah melakukan reclaim. Bukan tanah bukan sawah. Tapi masjid dan hak mereka untuk beribadah dengan tenang dan nyaman.

Ahmadiyah Kersamaju, Cigalontang terletak di perbatasan Garut dan Tasikmalaya, di tepian sungai Cikuray, nama yang sama dengan gunung yang jadi latar belakang.

Ahmadiyah di Kersamaju ini sejatinya bagian dari komunitas yang lebih besar, ada 5000 Muslim Ahmadi di desa Tenjowaringin, Salawu. Namun berbeda desa dan kecamatan, sehingga menyebabkan punya nasib sedikit berbeda.

Menurut pengakuan warga Ahmadiyah, mereka sudah membangun tempat ibadah berupa rumah panggung sejak 1980’an. Orang sana bilang rumah semi permanen, karena statusnya semi maka tahun lalu mereka berencana upgrade ke bangunan yang lebih permanen: bata dan semen. Di poin ini saya enggak setuju, dengan iklim dingin dan vegetasi yang rapat rumah kayu dan panggung itu udah paling pas, dan permanen buat tinggal!

Oke soal bentuk kita tinggal sebentar, karena itu impian saya pribadi punya rumah kayu menghadap gunung dengan gemercik sungai.

Mei tanggal 31, Satuan Polisi PP dan Polisibeneran, mendatangi masjid lalu menutupnya. Pasalnya renovasi dan metamorfosis semi menjadi permanan ini tidak disukai beberapa warga desa yang lain. Gesek-gesek dari orang-orang ini bikin kepala desa ogah memberikan restu untuk upaya mengurus IMB dari masjid yang dipermanenkan.

Jalan menujut Kersamaju, dengan background sungai yang dahsyatullah.

 

Di kampung mana ada bangunan yang pakai IMB? apalagi masjid. Tetapi sebagai warga negara yang taat dan sadar posisi, warga Ahmadiyah memang selalu berusaha memastikan bahwa masjid berdiri di tanah yang tidak sengketa dan ada IMB.

Nah sekali lagi, andai Kersamaju bergeser 1km masuk ke desa Tenjowaringin mungkin akan lain cerita. Ini kampung orang, meski negara kita.

Paska penutupan masjid itu saya bersama teman-teman SobatKBB sempat melakukan kunjungan satu hari Jakarta – Ciamis – Tasikmalaya.

Waktu itu, terus terang saya agak ragu dengan warga Ahmadi Kersamaju, gimana mau merebut haknya kalau antar mereka saja gak kompak dalam menjelaskan duduk masalah dan kelanjutannya. Nampaknya perlu proses yang lebih panjang buat mereka melakukan konsolidasi dan kalkulasi internal.

Seekor kucing, sebut saja mawar, melewati masjid Ahmadiyah Kersamaju tanpa merasa takut dan berdosa

 

Gebrakan Senin

Kata Einstein, waktu itu relatif tergantung pengamat. Dalam kasus saya tergantung pengamat dan pelaku. Karena senin lalu, 29 Juni Ahmadiyah Kersamaju memutuskan membuka mandiri masjid, paska ultimatum agar Bakorpakem membuka masjid tak kunjung hasil.

Kenapa ultimatum pada Bakorpakem? Satpol PP dan Polisi juga aparat negara yang ditanya selalu menunjuk Bakorpakem sebagai pemberi perintah penutupan ini.

Saya sendiri enggak percaya, mana ada Bakorpkem bisa perintah Satpol PP dan Polisi. Cuma Bupati yang bisa, dan selama bupati gak muncul berarti ia sedang melakukan aksi cuci tangan, entah dengan sabun colek atau arang.

Pembukaan mandiri lalu hanya berhasil membebaskan masjid selama dua jam untuk sholat dzuhur lalu ditutup kembali dengan lebih represif dan galak. Bahkan satu rekan jurnalis yang tengah mendokumentasikan diciduk dan dibawa ke Polres Tasikmalaya selama tiga jam.

Kegagalan pembebesan masjid dan aksi represif pada jurnalis dan dokumentator ini membuat warga Ahmadiyah Kersamaju merasa perlu punya kemapuan dokumentasi mandiri. Mereka sadar pada akhirnya mereka harus mandiri.

Belajar Dokumentasi

Tim dokumentasi yang hendak belajar ini terdiri dari belasan perempuan dan 2 lelaki. Umurnya bervariasi dari tampang SMU hingga ibu-ibu 40 tahunan. Dan mereka sangat kompak, kompak diam. Sebagai pembicara yang terbiasa provokatif saya agak grogi menghadapi massa seperti ini. Massa diam yang tidak merespon setiap saya beri waktu untuk bertanya merespon. Entah mereka enggak paham atau lebih mungkin saya enggak bisa menjelaskan hal yang jelas dengan mudah dan jelas.

Jadilah 4 pembicara berbicara dengan singkat dan masuk ke acara berikut: simulasi dan praktek. Ini harapan terakhir, untuk memancing bakat mereka keluar. Belasan orang ini dibagi ke beberapa empat kelompok: video, foto, tulisan dan sosial media. Masing-masing kelompok lalu diberi tugas kecil dan berlatih bersama satu fasilitator.

Firmansyah, dokumenter berbasis di Ciamis menjelaskan prinsip pengambilan gambar dalam kelas simulasi

Enggak banyak hasil yang didapat dari simulasi, namun ada beberapa peserta yang berbakat mengambil gambar dengan tenang dan tidak ambil gambar pantat! ini yang penting sebagai permulaan.

Giliran ditutup mulai lah saya yang terkejut kejut.

Kejutan pertama, ketika saya mendengarkan rekaman peristiwa senin lalu. Video ini diputar untuk melihat bagaimana sih mereka mengambil video dan berhadapan dengan aparatur negara.

Polisi: Jadi bapak ibu siapa yang menyuruh melepas segel, ini melepas segel melanggar aturan. Tidak diperbolehkan, nanti ada konsekuensi

Warga (perempuan): Kalau segel kan seharunya ada surat perintahnya, ada berita acaranya kok ini gak ada.

P: Nanti, nanti difasilitasi yang penting sekarang ini segel kita kembalikan dulu.

W: Kenapa harus nanti, saya mau lihat sekarang

P: Ya itu kan urusan pemda, nanti kami akan fasilitasi kepada pemerintah daerah

W: Ya ini kan udah 3 bulan

P: Iya nanti dikirim, nanti akan dikirim.

Wah berani bener nih si ibu!

Doni. aktivis internet menayangkan timeline twitter yang mengupdate penutupan ulang masjid Kersamaju secara live

 

Kejutan kedua datang ketika apa yang harus dilakukan setelah training. Saya usul ada tugas-tugas kecil yang bisa dilakukan untuk mengasah skill dilanjutkan pertemuan evaluasi sekira 2 minggu sekali. Mereka tertarik. “Kalau ada gerak jalan boleh gak kita dokumentasikan buat latihan?” “Boleh”.

Nah giliran kapan bertemu lagi ada ketidaksepakatan. Seluruh fasilitator berasal dari luar wilayah Kersamaju. Saya sendiri dari Jakarta.

Fasilitator: nanti bisa konsulitasi via email, atau whatsapp

Saya: Atau bisa juga pertemuan, sebaiknya teman-teman yang tentukan pertemuan lalu undang salah satu orang yang dianggap tepat. Kalau teman-teman yang undang akan lebih enak

Peserta: Iya lebih enak kalau ketemu, berbeda rasanya. kalau begitu saya minta nomer-nomernya biar bisa dikontak.

Akhirnya saya minta secarik kertas menulis nama, nomor telpon dan menggulirka ke fasilitator yang lain.

Glek, ntar dua minggu lagi saya ditagih datang. Hahahahaha.

Paska training singkat saya berkunjung ke Kersamaju, duduk manis di rumah sebelah masjid dimana di halamannya berdiri tenda darurat. Obrolan pun berjanjut soal polisi, buka puasa dan masjid.

“Sebenarnya sholat di tenda gak masalah, saya asyik-asyik aja. Malah dingin-dingin gini gak ngantuk. Kalau di mesjid saya suka ngantuk” – sebuah ungkapan jujur yang mewakili saya ­čÖé

“Bukan soal masjid, kenapa saya diperlakukan enggak adil. Ini yang saya enggak terima. Saya tahu ini bukan soal IMB tapi karena kita Ahmadiyah”.

Ibu-ibu Kersamaju, mereka paham dan peduli akan hak-hak mereka

Saya pingin nangis terharu sekencang-kencangnya diajarin hak-hak sipil di Kersamaju.

 

Apa suara anda?

Comment

    • mau ikut? kalau komunitas yang manggil saya gak berdaya. hahaha

Webmentions

  • Yang Berani dari Kersamaju - Raja Pena July 7, 2015

    […] Kersamaju | Rumah kayu panggung, jendela dengan pemandangan sawah dan gunung. Saya rasa itu yang disebut dengan rumah. (Foto oleh Firdaus Mubarik) […]