in Religious Freedom

Refleksi

Tahun ini, 10 tahun saya terlibat dalam gerakan pemulihan dan pemenuhan hak kebebasan beragama di Indonesia. Dimulai dari terusirnya saya dari markas Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Juli 2005. Ada banyak pengalaman, dan beberapa hal penting dan praktis yang perlu dipikirkan jika anda ingin berjuang.

List ini tidak hanya berlaku bagi pejuang Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan tapi juga bagi mereka yang melawan impunitas dan totalitarian.

Kesadaran dan Percaya Diri

Tanpa kesadaran mustahil kita bersedia bekerja keras bertahun-tahun menghadapi derita sambil tersenyum. Tanpa percaya diri mustahil melakukan hal-hal yang dianggap orang lain sebagai tindakan bodoh.

Kesadaran paling penting kita sebagai manusia punya hak dan kesempatan yang sama dengan warga negara lain. Tidak ada satupun yang bisa menghentikan manusia untuk hidup layak dalam harga diri dan bermartabat.

Kesadaran tanpa percaya diri hanya menjadi pasifis, kepercayaan diri diperlukan untuk berani memperjuangkan hak-hak dan tujuan kita. Kepercayaan diri bahwa kita, dengan satu dua cara dan bersama-sama akan dapat memulihkan hak-hak kita yang hilang. Pasti.

Non Kekerasan

Tujuan kita mengembalikan hak-hak yang hilang, menempatkan seluruh manusia pada situasi yang bermartabat. Kekerasan berlawanan dengan tujuan-tujuan itu. Kekerasan pasti menghilangkan hak-hak orang lain, harta, masa depan dan mungkin nyawa.

Akan ada situasi dimana kekerasan sangat menggoda untuk dilakukan. Situasi ini begitu membuai hasrat-hasrat mencapai tujuan. “ayo hanya sedikit pukulan kecil, dan semua masalah selesai. Tidak ada yang tahu”. Kekerasan satu akan membawa pada kekerasan yang lain.

Menolak melakukan kekerasan bukan berarti lemah dan tidak membela diri. Beware.

Bersolidaritas

Kebenaran yang hanya diamini oleh diri sendiri adalah omong kosong. Kita harus bergerak mendekat pada orang-orang memiliki tujuan sama, sebaiknya mereka yang memilih cara dan nilai yang sama. Dengan bersolidaritas, kita menjadi kuat dan tajam.

Solidaritas bukan berkelompok, tidak sekedar. Bersolidaritas artinya kita menjadi sebuah gerakan yang selaras, bersama dan saling mendukung.

Mustahil bersolidaritas jika hanya memperjuangkan kepentingan kelompok sendiri. Solidaritas harus mencari nilai yang sama selain kepentingan yang sama.

Jangan Percaya “Pemerintah”

Ini adalah prinsip yang dipegang malu-malu oleh banyak orang. Tapi saya akan menegaskan disini jangan pernah percaya pada pemerintah. Merekalah selama ini duduk pada kekuasaan, melihat dengan teropong intelejen dan mengirim cambuk-cambuk lewat aparat.

Kita, secara taktis dapat (dan harus) bekerja sama dengan pemerintah. Kita harus menjalin hubungan yang baik, menyadarkan aparat-aparat negara untuk patuh pada konstitusi. Bekerja sama menyelesaikan problem sosial dan kepentingan warga negara.

Namun di akhir ketahuilah, pemerintah yang dengan sengaja menghilangkan hak-hak warganya tidak akan dengan begitu saja memulihkan hak-hak tersebut kecuali: terdesak secara politik atau digantikan.

Gunakan Media

Untuk memperbesar secara cepat sumber daya yang kecil, gunakan media massa dengan cermat. Dekati para wartawan dan pemegang kebijakan media massa. Berdialog dan berkawanlah.

Kita harus memastikan bahwa para wartawan dan redaktur memiliki pengetahuan yang cukup. Mereka juga harus melihat melalui sudut pandang korban. Hanya dengan cara-cara seperti itu media massa akan dapat mendukung perjuangan pemulihan hak.

Jika tidak, media massa justru akan jadi corong-corong kekuasaan dan menebarkan kebencian. Pemerintah memiliki posisi tawar tinggi pada media, sementara kelompok-kelompok besar menggunakan ekonomi korporasi untuk menguasi perusahaan-perusahaan media massa.

Belajar dan Praktekkan

Belajarlah beberapa “live skill” yang bermanfaat baik untuk pribadi maupun komunitas anda. Pelajaran “Keamanan Personal dan Komunitas” bisa membantu kita menganalisa ancaman, bergerak menghilangkan ancaman dan melakukan perbaikan.

Gunakan tools teknologi yang populer seperti handphone, internet dan social media. Pelajari bagaimana merekam, menyunting dan distribusi foto/suara/video dengan peralatan yang tersedia. Anda akan hidup lebih tenang jika mengontrol bukti.

Ada banyak skill yang dapat dipelajari, berkonsultasilah pada kawan-kawan pembela hak asasi manusia, jurnalis, artis, akademisi di sekitar anda. Kita sering lupa dengan sumber daya disekitar kita.

90% Politik, Hukum adalah sisanya

Sebagian besar masalah pemulihan hak adalah situasi dan posisi politik. Kita kalah berunding bukan karena salah, kita kalah berunding karena lemah. Penegakan hukum tidak bisa dilakukan hanya dengan melakukan perbaikan teks teks undang-undang atau melawan di pengadilan, meski itu perlu dilakukan.

Jadi ingatlah ketika kita berjuang memperbaiki hukum-hukum yang ada, ada 10 kali lipat pekerjaan politik yang harus dilakukan secara bersamaan.

Pada akhirnya jadilah warga negara yang baik, patuhi semua aturan, membangkahlah pada hukum yang salah.

 

 

 

 

 

Apa suara anda?

Comment