in Religious Freedom

Day 6: Ahmadiyah Depok

Hidung masih terasa penuh, sakit yang menusuk disisi kiri. Tenggorokan terasa mencengkram semua aliran yang hendak masuk. Untung sakit kepala sudah hilang paska tidur sore. Badan terasa sedikit gerah setelah mandi air hangat. Pukul 19 lebih, saya mengambil jaket.

Fatimah Zahrah, adik saya yang entah keberapa, sudah siap dengan dandandan vintage. Kali ini baju terusan warna cream dengan corak merah, dan tas punggung warna hijau bercampur biru. Juga vintage. Saya tidak terlalu tahu apakah vintage itu sekedar soal warna pucat menyala atau juga barang-barang dari masa lalu. Malam ini dandan Fatimah adalah keduanya. Ia punya keahlian tersendiri mengendus barang-barang lama jadi senjata fashion.

Saya hendak mengunjungi Ahmadiyah Depok di Sawangan. Lokasinya tak terlalu jauh sedikit ke selatan sekira 8 kilometer lalu ke timur dengan jarak yang hampir sama. Namun ini Depok, sebuah kota satelit yang benar-benar satelit, perlu mental astronot untuk ulang alik Jakarta – Depok.

Depok dipimpin¬†Walikota Nurmahmudi. Nurmahmudi adalah walikota terkenal, ia punya trik jitu keluar dari kebiasan para walikota lain. Alih-alih ucapan macam “Selamat datang di Depok” atau “Depok siap menyambut investasi dan pariwisata” plus gambar walkot dan wakilnya, ah itu sudah kuno. Walikota ini pasang pesan yang keluar mainstream: “Makanlah dengan tangan kanan”. Sebuah ucapan yang bisa dipahami anak TK hingga para manula. Sungguh cerdas!

Malam minggu ke Depok tentu bukan dampaan buat pria metro seksual seperti saya. Lebih baik menonton film di rumah dengan keluarga, atau merencanakan proyek-proyek lanjutan di facebook. Tapi Depok kali ini menggoda.

Empat tahun lalu, Nurmahmudi dengan tangan kanannya (ini hasil deduksi saya!) meresmikan peraturan walikota untuk membatasi Ahmadiyah. Ini artinya Satpol PP lalu berbondong-bondong datang dan menutup masjid. Seperti biasa dengan tambahan kayu dan beberapa carik kertas.

Awal januari ini Ahmadiyah Depok melawan, mereka buka segel dan memakai lagi masjid secara terbuka. Beberapa hari kemudian Satpol PP datang dan pasang ulang palang kayu, peringatan dan ancaman. Palang itu dibongkar lagi.

Situasi ini nampak biasa bagi rumah ibadah di Indonesia. Satpol PP, segel, palang kayu. Bedanya teman-teman Ahmadiyah melakukannya secara terbuka. Mereka bongkar segel, palang kayu lalu lapor polisi.


Masjid Ahmadiyah di Depok ini tampak kucel, bentuk kotak dengan dinding keramik hijau. Sebuah lapangan badminton dibangun antara masjid dan rumah mubaligh. Tembok setinggi 3 meter baru berdiri di sisi selatan, sementara sisi utara berbatasan dengan lapangan hijau. Terus terang untuk masjid di sekitar ibu kota, masjid ini tampak kucel dan enggak ada seni sama sekali. Ia nampak dibangun seadanya agar ada.

Namun ia juga punya fasilitas olaharaga paling oke. Ketika saya berkunjung beberapa pemuda berkeringat di atas lapangan badminton. Di utara beberapa remaja tanggung asyik main pingpong.

bersambung ah…..

Apa suara anda?

Comment

  1. tulisan yang menginspirasi dan saya sangat mengaguminya apa yang telah anda sampaikan, semoga anda terus memberikan ide ide yang baru buat kita semua dan salam sukses selalu buat anda!